Kisah-kisah Mahasiswa Temui Ketimpangan Sosial di Lokasi KKN

56
Mahasiswa angkatan 2014 ini membagi pengalamannya saat KKN. Saat mengajar di SD, sekat pembatas antar kelas ambruk. Para siswa menahannya sembari tetap mencatat pelajaran. Foto Ilustrasi: Penerjunan mahasiswa KKN-PPM UGM periode Oktober-November 2019. Foto: Humas UGM
Mahasiswa angkatan 2014 ini membagi pengalamannya saat KKN. Saat mengajar di SD, sekat pembatas antar kelas ambruk. Para siswa menahannya sembari tetap mencatat pelajaran. Foto Ilustrasi: Penerjunan mahasiswa KKN-PPM UGM periode Oktober-November 2019. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kegiatan KKN bisa jadi merupakan momen mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman, termasuk mempelajari hal-hal baru di luar dunianya.

Ketimpangan atau kesenjangan sosial kerap kali dirasakan mahasiswa di lokasi KKN-nya.

Terutama ketika mereka membanding-bandingkan kehidupan selama KKN dengan kehidupan di tempat tinggalnya, yang notabene daerahnya sudah lebih maju.

Pulang-Pergi Lalui Jalan Berbatu dan Berbukit

Dalam pelaksanaan program KKN, IF, mahasiswa Departemen Sastra Indonesia menemui kenyataan bahwa penduduk Kalimantan Barat, lebih tepatnya di salah satu desa di Kabupaten Bengkayang, masih tertinggal dibanding daerah-daerah lain.

“Rumah aja masih kayu, jalanan masih pake semen gitu. Jalan aspal cuma dari pinggir kota sampai RT V. RT VI dan seterusnya jalan masih banyak batunya dan naik turun. Waktu itu pernah hampir kepleset juga karena itu jalan turunan tajam, banyak batu, dan licin, udah gitu dekat jurang. Kalau malam jalan-jalan di situ aku bisa saja hilang,” kisahnya kepada KAGAMA, belum lama ini.

Tidak memadainya infrastruktur dan fasilitas publik juga dirasakan oleh EL yang lokasi KKN-nya masih di Pulau Jawa, lebih tepatnya di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Diceritakan oleh EL, jalan yang sudah memadai hanya ada di provinsi saja. Ketika ia dan teman-temannya hendak ke kota Sukabumi, kondisi jalan bergelombang, sehingga tak mudah dilalui.

Belum lagi saat mereka akan menuju ke lokasi desanya, tiga bukit harus dilalui untuk sampai ke tujuan.

Baca juga: Cerita Horor Mahasiswa KKN UGM Kedatangan Tamu Misterius di Pondokan

Waktu perjalanan bisa mencapai tiga jam.

“Jalanannya terjal kaya mau ke pantai gitu. Kalau kita naik motor harus pelan-pelan, karena setiap ngegas batu-batunya gerak. Terus jalanannya juga kadang berubah setiap hari. Misalnya hari ini agak mulus, besoknya jalan itu rusak, terus kita harus muter balik,” jelas EL.

Kehidupan Ekonomi Warga Kurang Layak

IF bercerita, tempat tinggalnya di RT V dan RT I hingga RT IV menurutnya sudah berada di bawah garis kemiskinan.

Namun, ternyata RT VI sampai RT IX jauh lebih memprihatinkan.

IF kemudian menelusuri lebih dalam lagi melalui kegiatan survei kondisi ekonomi warga RT V sampai RT IX dengan mendatangi rumah-rumah warga.

“Kalau RT V beres. Nah, di RT IV dan selanjutnya ini aku pesimis dan merasa nggak enak tanya-tanya warga. Pas aku datang ke rumahya, cukup memprihatinkan. Dalam rumah itu cuma ada alas tidur. Televisi nggak ada, alat mandi juga nggak ada. Penghasilan mereka nggak tetap, katanya sehari paling cuma dapat dua ribu. Listrik aja harus nyambung sama tetangga lain,” ujar mahasiswa angkatan 2015 itu.

Hal serupa juga ditemui oleh EL ketika mengajar di salah satu sekolah di desanya.

“Kalau pas jam istirahat murid-murid pada nggak keluar buat jajan. Karena emang nggak dikasih uang jajan sama orang tuanya. Padahal mereka berangkat dan pulang jalan kaki sekitar 2-3 km. Aku ngerasa murid-murid di sini belajar di sekolah ala kadarnya dan gurunya nggak kasih bentuk kegiatan refreshing ke mereka,” ungkap alumnus Depaartemen Sosiologi tahun 2014 itu.

Baca juga: Mahasiswa KKN Fakultas Kehutanan UGM Meninggal Dunia di Palangkaraya