Kini Saatnya Orang Jawa Harus Membuktikan Nasionalismenya

220
Bambang Purwoko saat kunjungan ke Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua dalam misi pendidikan Gugus Tugas Papua UGM. Foto: Bambang
Bambang Purwoko saat kunjungan ke Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua dalam misi pendidikan Gugus Tugas Papua UGM. Foto: Bambang

Oleh: Drs. Bambang Purwoko, M.A. (Ketua Gugus Tugas Papua UGM)*

Aksi massa yang diwarnai pembakaran fasilitas umum di Manokwari, Jayapura dan Sorong tidak bisa dilepaskan dari rentetan peristiwa di pulau Jawa, khususnya Malang, Semarang, dan Surabaya.

Terlepas dari siapa yang melakukan provokasi awal dengan tindakan dan ucapan rasis, provokasi mereka telah berhasil membangkitkan amuk massa di Papua.

Ibaratnya, jualan isu rasisme kini laku keras dan terus digoreng dibumbui isu-isu lain yang berkembang liar.

Siapa yang rugi? Kita semua. Tidak hanya sekelompok kecil masyarakat di sekitar lokasi asrama-asrama Papua di Jawa atau pulau lain. Tetapi juga masyarakat pendatang di Papua, masyarakat dan pemerintah daerah di Papua, dan kita semua bangsa Indonesia.

Baca juga: Asmat, Panggung Budaya Indonesia di Papua

Bangsa Indonesia mengalami kerugian besar dan kemunduran besar, karena nasionalisme harus kembali ke titik terendah, justru di tengah suasana peringatan kemerdekaan yang begitu meriah.

Nasionalisme masyarakat Jawa harus dibuktikan dengan kemampuannya menerima perbedaan. Kemampuan bertoleransi. Tidak mudah terpancing dan bereaksi rasis atas hal-hal belum jelas. Isu pembakaran bendera mestinya direspon dengan bijaksana.

Siapa yang merusak bendera? Siapa yang sengaja menyebarkan hoaks via jaringan WA? Jangan-jangan itu hanya ulah provokator. Mengapa harus anti dan benci sekali terhadap mahasiswa Papua ? Di manakah sikap ramah tamah dan kelembutan hati orang Jawa?

Dalam berbagai aksi dan demontsrasi yang telah lalu, beberapa kali terjadi pembakaran bendera. Tetapi tidak ada reaksi sekeras minggu lalu di Surabaya. Apakah karena yang melakulan pembakaran bukan orang Papua, sehingga kita orang Jawa tidak menganggapnya sebagai hal yang berbahaya?

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa

Kini saatnya orang Jawa harus membuktikan nasionalismenya. Buktikan dengan kesanggupan dan keramahan untuk bisa menerima saudara-saudara kita dari Papua, dengan segala plus minusnya. Penerimaan lahir batin, bukan hanya manis di bibir saja.

Banyak hal yang harus diperbaiki dalam membangun relasi sosial budaya yang harmonis untuk membentuk karakter keindonesiaan. Ini bukan hanya menjadi kewajiban mereka yang datang ke Jawa, tetapi juga kewajiban dan tanggung jawab kita di Jawa.

Kini saatnya masyarakat Jawa membuktikan bahwa kita adalah masyarakat yang berbudaya adiluhung, yang bukan hanya tutur kata dan perilakunya halus lemah lembut, tetapi juga memiliki sikap bijak menerima perbedaan tradisi dan budaya saudara-saudara kita dari luar Jawa.

Kini saatnya orang Jawa membuktikan nasionalismenya. Kita bisa. Mereka bisa. Kita bersaudara, bersatu berpelukan dalam budaya satu bangsa, bangsa Indonesia.*

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua