Kagama Jual Nasi Rp400 untuk Selamatkan Mahasiswa dari Krisis 1998

454
Nasi bungkus yang dijual warung makan murah Kagama sangat mnembantu mahasiswa dan masyarakat sekitar UGM menghadapi krisis moneter 1998. Foto : Jurnaba
Nasi bungkus yang dijual warung makan murah Kagama sangat mnembantu mahasiswa dan masyarakat sekitar UGM menghadapi krisis moneter 1998. Foto : Jurnaba

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 mendorong KAGAMA untuk menelurkan tindakan solutif.

Krisis moneter yang terjadi sejak paruh kedua 1997 mengakibatkan masyarakat Indonesia terlilit masalah ekonomi.

Hal itu tidak hanya memperlambat pembangunan negeri yang sedang kencang-kencangnya, tetapi juga mempersulit kebutuhan hidup sehari-hari, tak terkecuali bagi masyarakat kampus dan sekitar kampus Universitas Gadjah Mada waktu itu.

Mengutip majalah KAGAMA edisi Mei 1998, alhasil, dengan didasari rasa solidaritas terhadap sesama, PPH (Pengurus Pusat Harian) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) membuka warung mudah dan sehat pada tanggal 30 April 1998.

Ide pembukaan warung makan murah Kagama muncul dari Seksi Pengembangan Ilmiah dan Pengabdian Masyarakat.

Dr. Eko Sugiharto, dr. Soegandi, DSF; Dr. Chairil Anwar, Dr. Umar Anggara Jenie, dan dr. Hari Kusnanto, Ph.D menjadi penanggung jawab program ini kala itu.

Baca juga: Pembangunan SDM Perlu Diwujudkan Lewat Guru dan Pendidikan yang Inovatif

Untuk operasional sehari-hari dipercayakan kepada, Ibu Oetari Prawiro Hardjo, istri dari Ketua Umum PPH Kagama Prof. Dr. Koento Wibisono Siswomihardjo, dan dibantu Radjiman.

Warung murah Kagama kala itu bertempat di halaman parkir Wisma Kagama dengan konsep tenda dan lesehan. Warung dibuka mulai 11.00-13.00 selama Senin sampai Sabtu.

Adapun khusus pada bulan puasa menyediakan paket berbuka pada sore hari.

Awalnya, warung Kagama hanya direncanakan dibuka selama dua bulan dan diperpanjang hingga enam bulan jika memungkinkan.

Maklum, nasi bungkus seharga Rp750,00 mesti dijual dengan harga Rp400,00 dan setiap harinya disediakan 200 bungkus nasi.

Namun, uluran tangan dari alumni dan berbagai pihak yang berdatangan membuat program ini terus berlangsung.

Harga porsi nasi bungkus pun meningkat menjadi Rp500,00 memasuki bulan Agustus 1998 karena terjadi penyesuaian harga lantaran kenaikan bahan pangan.

Baca juga: Ganjar Dikenal Sosok yang ‘Nguwongke’ dan Peduli Komunitas Akar Rumput

Majalah KAGAMA edisi November 1998 juga menulis bahwa banyak pula mahasiswa dari perguruan tinggi lain di Yogyakarta yang datang ke warung makan murah Kagama, kendati harus berjalan kaki atau naik bus kota.

Alasannya adalah, selain harganya murah, menunya cukup bervariasi dan rasanya enak.

Penelusuran lebih lanjut soal warung makan Kagama ditemukan pada Majalah KAGAMA edisi Mei 2001.

Saat itu, warung makan murah Kagama telah beroperasi selama tiga tahun dengan harga per porsi terbarunya menjadi Rp750,00 mulai April 2001.

Dalam kurun waktu tiga tahun pelayanan, warung makan murah Kagama telah 518 kali sumbangan dan memproduksi lebih dari 270.020 porsi nasi murah. (Tsalis)