Bekerja di NGO Harus Siap dengan Situasi Dinamis dan Beban Kerja yang Tinggi

1918

Baca juga: Produk Merchandise Kafegama DIY Diluncurkan, Hasil Penjualan untuk Kegiatan Sosial

Memenuhi ekspektasi atasan yang tinggi juga merupakan bagian dari pekerjaan Indri yang menantang.

NGO pada umumnya sangat berpegang pada etika, standard yang tinggi, dan segala kegiatan yang dilakukan harus berbasis pengalaman keilmuan yang dalam.

Untuk itu, dirinya harus mengembangkan growth mindset.

Mahasiswa atau lulusan Gizi dan Kesehatan yang ingin bekerja di NGO atau IGO harus mengasah skill konselornya.

Salah satunya dengan mengikuti berbagai pelatihan hingga tuntas dan mendapatkan sertifikat.

Lalu yang tak kalah penting adalah kembangkan kemampuan berorganisasi dan keluwesan berkomunikasi.

Luwes, kata Indri, bukan berarti berbasa-basi atau berbicara dengan suara lembut, tetapi bagaimana seseorang memposisikan diri.

Baca juga: Cerita Gede Mantrayasa, Bangun Kebun Berdaya sebagai Sumber Pangan dan Ruang Kreatif Masyarakat

Kita harus tahu waktu yang tepat untuk bernegosiasi, mampu mendengarkan lawan bicara.

Ini menjadi penting karena staf NGO ditugaskan untuk mengadvokasi dan membangun relasi dengan mitra.

Menurut Indri, tanpa pengalaman komunikasi yang cukup, kita akan kesulitan.

“Jangan lupa ambil course project management, yang ilmunya bakal menjadi bekal bagi teman-teman yang ingin bekerja seperti Saya. Kemudian berusaha aktif menjadi volunteer di organisasi yang diincar semasa kuliah.”

“Di samping menambah pengalaman, hal ini juga melengkapi CV teman-teman, serta menambah jaringan. Jika sudah membangun relasi, jagalah komunikasi kalian sebaik mungkin,” pungkasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Alumni Psikologi UGM Angkatan ’83 Luncurkan Buku Perjalanan Hidup Satu Angkatan