Skema Dirjen Wikan Sakarinto untuk Nikahkan Prodi Vokasi dengan Dunia Kerja dan Dunia Industri

1273
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (DIKSI) alumnus UGM, Wikan Sakarinto, menjelaskan siasatnya dalam menikahkan program studi vokasi dengan dunia kerja dan dunia industri. Foto: Humas SV UGM
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (DIKSI) alumnus UGM, Wikan Sakarinto, menjelaskan siasatnya dalam menikahkan program studi vokasi dengan dunia kerja dan dunia industri. Foto: Humas SV UGM

KAGAMA.CO, JAKARTA – Belum lama ini Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, Ph.D., menjabarkan Program Penguatan Program Studi (Prodi) Pendidikan Vokasi Tahun 2020.

Dalam program tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi akan memulai gerakan ‘Pernikahan Massal’.

Pernikahan massal (link and match) akan mempertemukan prodi vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI).

Wikan mengatakan, pihaknya menargetkan 100 prodi vokasi di PTN dan PTS menikah dengan puluhan hingga ratusan industri pada tahun ini.

Tujuannya tak lain demi menyesuaikan kompetensi dengan dunia kerja dan dunia industri.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (DIKSI) alumnus UGM, Wikan Sakarinto, menargetkan perkawinan massal antara prodi vokasi PTN dan PTS dengan industri terjadi pada 2020. Foto: Ditjen DIKSI
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (DIKSI) alumnus UGM, Wikan Sakarinto, menargetkan perkawinan massal antara prodi vokasi PTN dan PTS dengan industri terjadi pada 2020. Foto: Ditjen DIKSI

Baca juga: Pesan Kepala BNPB Doni Monardo kepada Yayasan Peduli Hutan Indonesia

Wikan pun menyebut ada sembilan paket yang disiapkan skemanya untuk mendorong terwujudnya pernikahan.

“Satu, kurikulum disusun bersama industri. Yakni berupa materi training dan sertifikasi di industri yang masuk resmi ke dalam kurikulum kampus,” ucap Wikan, kepada Kagama.

“Dua, dosen tamu dari industri rutin mengajar di kampus. Tiga, program magang yang terstruktur dan dikelola bersama dengan baik,” sambung alumnus D3 Teknik Mesin UGM angkatan 1993 ini.

Empat, kata Wikan, komitmen kuat dan resmi pihak industri menyerap lulusan. Lima, program beasiswa dan ikatan dinas bagi mahasiswa.

Enam, pihak industri men-training dosen-dosen. Tujuh, sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan oleh pihak industri.

Baca juga: Langkah Pertama KAGAMA Balikpapan Memulai Program Ketahanan Pangan Masa Pandemi