Belajar Egaliter dan ‘Ngewongke Wong’ ala I Wayan Nuka Lantara

1875

Baca juga: Pendanaan Startup Berisiko, Pemerintah Perlu Tingkatkan Pengawasan

Terkesan dengan Rasa Kekeluargaan dan Sikap Egaliter Para Seniornya

Wayan meraih gelar sarjananya pada tahun 1998 dan langsung menempuh studi lanjut di Magister Sains UGM.

Di tengah nasib baik industri pariwisata di Bali, Wayan justru lebih tertarik menjadi pengajar.

Dirinya memutuskan untuk berkarier menjadi dosen di FEB UGM pada tahun 2000.

Sebelumnya Wayan sudah kerap menjadi asisten dosen.

Dari situ, Wayan menemukan sesuatu yang dia cari selama ini.

Kesan mendalam Wayan rasakan ketika bergabung dengan keluarga FEB UGM sebagai tenaga pendidik.

Dirinya merasa nyaman dengan kekeluargaan dan sikap egaliter para dosen dan staf di sana.

Baca juga: Kiat Berhemat bagi Perempuan Pecinta Kosmetik

”Kami nggak pernah manggil ‘prof’ di sini, paling panggil ‘Pak’. Jadi seperti kolega sendiri. Tetap ada senioritas, tetapi hal-hal yang kaku begitu nggak pernah terjadi,” jelas pria kelahiran 1975 itu.

Dia lanjut bercerita, pergaulan antara junior dan senior di FEB lebih cair.

Saling mengolok-olok sudah biasa terjadi di kalangan dosen dan terkadang lumayan ‘parah’.

Meskipun demikian, para dosen ini tak menganggapnya serius.

“Saya itu kalau diejek malah senang, karena berarti Saya diterima oleh mereka. Waktu itu kami juga diajari tentang kewajiban mengenal satu sama lain, sowan ke dosen. Itu masih membekas sekali,” ujar Bapak dua anak itu.

Wayan sempat canggung ketika awal-awal menjadi dosen.

Menurutnya, ini merupakan ‘ospek’ kedua setelah menjadi mahasiswa.

Dia kemudian mengambil kesempatan untuk mengakrabkan diri dengan dosen, dengan bergabung dengan komunitas olahraga voli yang diikuti oleh para dosen.

”Ya dihina habis-habisan Saya, tetapi cepat sekali membaurnya,” kenang Wayan.

Baca juga: Literasi Penting untuk Tangani Penderita Gangguan Kesehatan Mental