Pakar UGM Sebut Indonesia Butuh Komunikasi yang Minimalkan Rumor dan Kesalahpahaman Soal Covid-19

434
Ada kegenitan media yang berisiko pada pemahaman publik secara luas sampai tidak mengetahui faktanya. Foto: eletimes
Ada kegenitan media yang berisiko pada pemahaman publik secara luas sampai tidak mengetahui faktanya. Foto: eletimes

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pandemi Covid-19 di Indonesia memiliki sifat krisis yang kronis.

Demikian disampaikan dosen Ilmu Komunikasi UGM, Prof. Hermin Indah Wahyuni dalam jumpa pers daring pada Selasa (07/04/2020).

Di saat yang sama, lanjut Hermin, Indonesia menghadapi situasi infodemics.

“Dalam hal ini kita dihadapkan oleh jumlah informasi yang luar biasa membombardir masyarakat, sehingga justru sulit untuk diidentifikasi kebenarannya atau potensi tawaran solutif yang dikembangkan,” jelasnya.

Baca juga: KAGAMA Qatar Galang Donasi untuk Mahasiswa UGM Terdampak Covid-19

Menurut Hermin, terkadang ini lebih mengerikan dibanding virus tersebut.

Komunikasi yang saat ini perlu dikembangkan adalah komunikasi yang meminimalkan rumor dan kesalahpahaman.

Sebab, rumor dan kesalahpahaman berpotensi menjauhkan dari respon yang seharusnya, bahkan bisa mendorong berkembangnya penyakit yang makin meluas.

Hermin menambahkan, WHO pernah mengeluarkan panduan interim mengenai Risk Communication and Engagement Readiness and Response to Covid-19 (RCCE).

WHO, kata Hermin, memberikan saran untuk mengimplementasikan RCCE sebagai bagian dari respon, yang sifatnya emergency dalam sistem kesehatan nasional.

Baca juga: G2R Tetrapreneur Bantu Perputaran Ekonomi Masyarakat Lewat Gerakan Belanja di Desa