Kelompok Mana yang Paling Menderita dari Musibah Banjir?

748

Baca juga: KAGAMA Buah dan Hortikultura Gelar Pelatihan, Prof. Budi Wignyosukarto Dapat Doorprize

Mereka pun tergugah untuk mencari tahu dengan melakukan penelitian berjudul Kerentanan Masyarakat Perkotaan terhadap Bahaya Banjir di Kelurahan Legok, Kecamatan Telanipura, Kota Jambi.

Penelitian tersebut terbit di Majalah Geografi Indonesia pada 2017.

Sebagaimana dalam judulnya, penelitian Dian dkk. mengambil sampel wilayah di Kelurahan Legok, Jambi.

Penelitian diawali dengan menghimpun data primer maupun sekunder.

Data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara dengan kuesioner.

Ada 476 rumah tangga yang menjadi responden dalam wawancara di daerah dengan luas 3,51 kmini.

Wawancara yang dilakukan merujuk pada data pendapatan, komposisi umur, dan jenis kelamiin penduduk.

Baca juga: Falsafah Jawa dalam Menari Jadi Senjata Dubes Kenssy Berdiplomasi

Sementara itu, pemetaan dengan memanfaatkan software ArcGis juga dilakukan untuk memindai lokasi bencana banjir.

Berdasarkan hasil penelitian, penduduk dengan usia produktif (15-64 tahun) merupakan kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana.

Ada 270 orang (69,59%) korban yang masuk dalam kategori usia produktif.

Menyusul usia produktif, terdapat warga usia muda yang berumur 0-14 tahun (84 orang, 21,65%).

Kemudian ada pula korban dari kategori usia lanjut dengan jumlah 34 orang (8,76%).

Ditinjau dari sebaran korban yang ada, jumlah korban dari kelompok usia yang dinilai rentan, yakni usia lanjut, lebih sedikit.

Karena itu, Dian dkk. percaya penanganan bencana akan lebih mudah ditangani.

Namun, pakar yang mereka yakini memandang bahwa keluarga yang memiliki kepala keluarga wanita lebih rentan mempersiapkan diri menghadapi bencana.

Sebab, pria punya kelebihan dalam pembagian tugas dalam sebuah keluarga.

Sedangkan temuan yang lain adalah sebagian besar penduduk bermata pencaharian pegawai swasta (46%) lalu diikuti wirausaha (33%).

Dian dkk. menilai, penduduk dengan pekerjaan tetap punya kerentanan yang lebih rendah.

Pasalnya, penghasilan mereka bisa diandalkan untuk memenuhi pengeluaran seusai bencana.

Begitu pula penduduk dengan penghasilan yang tinggi.

Mereka disebut lebih siap menghadapi banjir lantaran adanya tabungan yang menjamin kehidupan selama bencana berlangsung. (Tsalis)

Baca juga: Menguak Rahasia Kebahagiaan Masyarakat Miskin Pesisir