Kamis, 23 Mei 2024 | 08:08 WIB

Prof. Rini Indrati Selalu Berebut Kursi Paling Depan Semasa Kuliah

Baca juga: Buat Komposit Beton dari Sampah Plastik, Mahasiswa UGM Raih Medali Emas WINTEX 2019

Berbeda dengan masa sekarang, menurut Rini mahasiswa dan dosen zaman dulu tidak begitu akrab.

Nilai-nilai senioritas masih ada, segan bagi mahasiswa untuk membangun keakraban dengan dosen.

Meskipun demikian, dosen-dosen tetap menghargai mahasiswanya.

Capai Cita-cita Menjadi Guru Sampai Raih Guru Besar

Berkarier menjadi dosen Departemen Matematika UGM, memang sudah menjadi keinginan Rini sejak lama.

Dia semakin yakin dengan cita-citanya itu, manakala kawan-kawan dan dosen pembimbingnya menyarankan dirinya untuk berkarier sebagai dosen setelah lulus kuliah.

“Begitu ada yang tanya dan menyarankan itu, artinya Saya memang punya peluang untuk berakarier jadi dosen. Karena dari dulu orang sudah bisa membaca masa depan mahasiswa MIPA itu kalau nggak jadi guru ya dosen. Lulusan kita memang paling banyak berkarier di dua profesi itu. Tapi kalau sekarang sudah berubah, banyak lulusan kami yang bekerja di perusahaan IT,” ungkap alumnus Matematika UGM angkatan 1985 itu.

Rini mulai berkarier sebagai dosen pada 1990.

Baca juga: Prabowo dan Nadiem Makarim, Menteri Kabinet Indonesia Maju Terpopuler di Dunia Maya

Lalu melanjutkan pendidikan master dan doktornya di UGM, sampai akhirnya dikukuhkan menjadi guru besar tahun 2017 lalu.

Dalam pidato pengukuhannya, Rini mengangkat tema tentang Integral Henstock-Kurzweil dan Perkembangannya.

Peduli kepada Mahasiswa Rantau

Pengalamannya menjadi relawan guru les privat cukup bermanfaat untuk dirinya ketika mengajar di perguruan tinggi.

Mahasiswa memang memiliki pola pikir yang lebih dewasa daripada siswa SMA.

Tetapi, menurut Rini, penting bagi guru mahasiswa untuk bisa merangkul baik anak didiknya seperti guru-guru di SMA.

“Guru SMA itu sabarnya luar biasa. Bersyukur Saya jadi dosen. Namun, penting juga para dosen belajar dari guru SMA. Sebab, pendekatan personal memang perlu. Mahasiswa kami banyak yang hidup jauh dari orang tua, pastinya ada tekanan tersendiri menempuh studi di sini. Dengan sentuhan-sentuhan itu, kita bisa menolong mereka, sampai mahasiswa paham bahwa di tanah rantau ada orang-orang yang peduli dengan mereka,” jelas Kaprodi S1 Matematika itu.

Baca juga: Membingkai Keberagaman Ala Gus Baha


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA