Pakar Energi Terbarukan UGM Ajak Anak Muda Hadapi Krisis Energi

619
Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D.(Foto: Agus)
Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D.(Foto: Agus)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Krisis energi merupakan salah satu isu yang saat ini sedang panas diperbincangkan. Masalah ini juga sempat menjadi bahan dalam debat calon presiden beberapa waktu lalu.

“Saat ini kita sedang dihadapkan pada kondisi keterbatasan atau krisis. Utamanya krisis di bidang energi,” ungkap Ahmad Agus Setiawan S.T., M.Sc., Ph.D., Dosen Fakultas Teknik UGM dalam diskusi bertajuk ‘Mengungkap Potensi Biofuel Untuk Mendukung Kemandirian Energi Indonesia’ (28/03/2019).

Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Energi Mahasiswa UGM ini bertempat di Perpustakaan Teknik UGM lantai 2. Acara yang berkolaborasi dengan Komunitas Mahasiswa Sentra Energi (Kamase) ini juga menghadirkan Ir. Nunung Praba Ningrum M.T., Ph.D., peneliti Biodisel UGM sebagai pembicara.

Bagi Nunung, krisis energi diakibatkan oleh berbagai hal. Antara lain disebabkan adanya permintaan energi yang terus mengalami kenaikan.

Diskusi bertajuk 'Mengungkap Potensi Biofuel untuk Mendukung Kemandirian Energi Indonesia".(Foto: Rosa)
Diskusi bertajuk ‘Mengungkap Potensi Biofuel untuk Mendukung Kemandirian Energi Indonesia”.(Foto: Rosa)

Tak hanya itu, kondisi juga diperparah karena persediaan energi fosil yang semakin berkurang. Hal ini kemudian berdampak pada peningkatan harga bahan bakar fosil.

Merespon kondisi ini, per 1 Saptember 2018 lalu, Presiden Joko Widodo mulai memberlakukan kebijakan B20 melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 41 Tahun 2018.

Kebijakan yang baru diratifikasi pada 23 Agustus 2018 ini mengharuskan adanya 20 persen campuran biodiesel dengan 80 persen bahan bakar minyak jenis solar.

Hal ini, kata Nunung, diperkirakan mampu menghemat anggaran devisa mencapai USD 21 juta per hari atau sebesar USD 5,5 miliar per tahun. Selain itu juga mampu menurunkan impor hasil minyak sebanyak 20,99 persen pada 2019 dibanding akhir tahun 2018.

Krisis Energi Harus Dihadapi

“Kita harus mulai melihat ke depan, krisis energi bukan lagi khayalan. Tapi sudah terjadi dan harus di hadapi,” terang Agus. Pakar energi terbarukan ini juga menambahkan bahwa kini generasi muda sudah harus mulai memikirkan keberlanjutan energi untuk masa depan.

Menurut Agus, kehadiran kebijakan B20 diharapkan menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Hal ini karena Biodisel memiliki beberapa kelebihan.

Sebagaimana diketahui, biodiesel memiliki emisi karbon dioksida yang jauh lebih rendah, yakni 70-75 persen dari bahan bakar jenis lain (Solar) yang dihasilkan dari fosil hewan. Sehingga biodiesel sudah tentu menjai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, Nunung berpendapat bahwa kendati biodisel memiliki banyak kelebihan, namun pembuatan biodisel memiliki banyak tantangan dalam pembuatan. “Kenapa kebijakannya hanya berani 20 persen? Tidak sampai 100 persen?,” ucao nunung.

Hal ini karena proses produksi pembuatan biodisel yang berbiaya tinggi. Selain itu juga dalam proses pembuatannya memerlukan waktu yang lama.(Rosa/Magang)