Sejarawan UGM Kritik Suma Oriental Karya Tome Pires

2888
BWCF 2018.(Foto: Tita)
BWCF 2018.(Foto: Tita)

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA Karya catatan sejarah seperti yang ditulis oleh Tome Pires harus benar-benar dikritisi karena kental dengan subjektivitas.

Hal ini disampaikan oleh sejarawan UGM Dr. Sri Margana dalam acara tahunan Borobudur and Writers Cultural Festival (BWCF) di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, pada Kamis (22/11/2018).

Menurut Margana, Tome Pires memiliki kisah tersendiri mengenai Islamisasi yang terjadi pada orang-orang Jawa. Islamisasi dilakukan oleh orang-orang asing yang menurut perhitungan Pires sudah menetap selama 70 tahun.

Penulis berkebangsaan Portugis tersebut menyebutkan bahwa orang Jawa berkarakter tinggi hati dan suka pamer. Karakter inilah yang kemudian mempengaruhi orang-orang asing di Jawa untuk memiliki watak serupa.

“Berhubung orang asing tersebut lebih kaya daripada orang-orang Jawa, maka mereka merasa lebih superior daripada orang-orang lokal,” kata Margana.

Ia melanjutkan, tentu saja penjelasan yang disebutkan Pires dianggap banyak bertolak belakang dengan karakter orang Jawa pada umumnya. Akan tetapi, Pires sering menyatakan bahwa data yang diperolehnya itu valid.

Pires mengaku telah mengklarifikasi berbagai macam keterangan yang telah ditulisnya. Meskipun perlu banyak dikritisi lagi, kata Margana, Suma Oriental tetap dianggap penting sebagai karya yang bercerita tentang abad ke-16.

Pada abad-abad ini, lanjut Margana, sering disebut sebagai periode penemuan atau discovery karena adanya kompetisi arung samudera yang dilakukan oleh orang-orang Eropa. Mereka berlomba-lomba mengarungi samudera dan haus oleh pengetahuan mengenai dunia Timur.

Terlebih lagi ada mitos mengenai kekayaan dunia Timur yang menjadikan orang-orang Eropa ini selalu menganggap bahwa segala informasi yang didapatkan dari dunia Timur adalah barang berharga. Dengan adanya anggapan yang demikian, maka muncullah orientalisme yang mentimurkan dunia Timur.

“Dengan adanya discovery ini seakan-akan orang-orang Asia yang ada di Timur telah ditemukan oleh Barat. Apabila tidak ada orang-orang Barat, maka orang-orang Timur ini dianggap tidak ada,” imbuh Margana.(Tita)