Tak Hanya Corak Yogyakarta yang Dipamerkan dalam Festival Batik DWP UGM

116
Ada yang berbeda dari Festival Batik Dharma Wanita Persatuan UGM pada edisi Dies Natalis ke-70 UGM 2019. Foto: Tsalis
Ada yang berbeda dari Festival Batik Dharma Wanita Persatuan UGM pada edisi Dies Natalis ke-70 UGM 2019. Foto: Tsalis

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dharma Wanita Persatuan (DWP) UGM turut menyemarakkan Dies Natalis ke-70 UGM melalui Festival Batik Nusantara serta Festival Obat dan Pengobatan Tradisional.

Acara ini dihelat di Grha Sabha Pramana mulai Senin (9/12/2019) hingga Rabu, 12 Desember 2019.

Penampilan tari Golek Lambangsari dari 11 anggota DWP UGM selama 15 menit menjadi pembuka acara.

Tak lama kemudian, Ketua DWP UGM Nur Indriyanti memberikan sambutannya.

Dia mengatakan, festival yang sama pernah diselenggarakan DWP untuk menyongsong Dies Natalis ke-69 UGM pada 2018.

Istri dari Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng.  ini menyatakan bahwa kecintaan dan kebanggaan DWP terhadap batik yang mendunia menjadi landasan untuk kembali mengadakan festival ini. Foto: Tsalis
Istri dari Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng.  ini menyatakan bahwa kecintaan dan kebanggaan DWP terhadap batik yang mendunia menjadi landasan untuk kembali mengadakan festival ini. Foto: Tsalis

Baca juga: Rencana Pemindahan dan Pembangunan Ibu Kota Baru Didiskusikan di Belanda

Namun, tuturnya, yang menjadi pembeda adalah tahun lalu DWP lebih mengangkat batik-batik lokal Yogyakarta.

Sementara pada edisi kali ini pihaknya memperkenalkan batik yang ada di Nusantara.

Di antaranya, batik Yogya, batik Madura, Purworejo, Lasem (Pantura Jawa), Solo, Kebumen, Tuban, Garut, dan Batang, yang mengisi 26 stan.

Istri dari Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng.  ini menyatakan bahwa kecintaan dan kebanggaan DWP terhadap batik yang mendunia menjadi landasan untuk kembali mengadakan festival ini.

“Batik, obat, dan pengobatan tradisional merupakan warisan budaya Indonesia yang sudah dikenal sejak lama. Bahkan, batik sudah dimasukkan UNESCO sebagai warisan kemanusiaan dan budaya lisan non bendawi pada 2 Oktober 2009, yang kemudian diperingati sebagai hari batik nasional,” tutur Nur Indriyanti, kepada khalayak yang hadir termasuk KAGAMA.

Baca juga: Almarhum Prof. Asip Hadipranata Sosok Pemikir Luas dan Peduli Hal-hal Kecil