Pengalaman Prof. Endang S. Rahayu di Jepang yang Berujung Pertemanan Tak Berkesudahan

663
Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Prof. Endang Sutriswati Rahayu memiliki pengalaman berkesan saat menempuh kuliah di Tokyo University, Jepang. Foto: TPHP UGM
Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Prof. Endang Sutriswati Rahayu memiliki pengalaman berkesan saat menempuh kuliah di Tokyo University, Jepang. Foto: TPHP UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Berat adalah satu kata yang mungkin dapat menggambarkan apa yang dialami Endang Sutriswati Rahayu pada periode 1987-1991.

Kala itu, perempuan yang akrab disapa Trisye ini memutuskan untuk menempuh studi doktoral di Tokyo University pada bidang Agrochemistry.

Hal yang membuat Trisye merasa berat adalah tuntutan kampus kepada mahasiswanya yang wajib bekerja sendiri tanpa bimbingan.

“Semuanya kami cari sendiri, tidak ada yang mengajari. Jadi kami harus belajar sendiri dari pustaka,” kenang Trisye.

Dalam suatu kasus, perempuan asal Jogja ini tengah mengekstraksi DNA dari Jamur (Aspergilus Flavus).

Trisye mengaku butuh banyak bahan untuk bisa mengisolasi DNA.

Bahkan, setiap ada publikasi baru tentang isolasi DNA, dia langsung pelajari guna memperbaiki metode sebelumnya.

Baca juga: Menko Airlangga Hartarto Bawa Perekonomian Indonesia Semakin Melejit

“Isolasi DNA tidak seperti sekarang yang tinggal duduk manis,” kata Trisye sambil tersenyum.

“Kami mesti mencoba terus menerus, lagi dan lagi. Bahkan kami mesti menggunakan ratusan tabung reaksi untuk melihat karakter mikroorganisme.”

“Walau begitu, kami juga menikmatinya,” jelas ibu satu orang anak ini.

Bahkan, saking beratnya kuliah di Jepang, Trisye mesti berangkat Senin pagi dan baru pulang Sabtu malam.

Hal itu dia lakukan pada enam bulan terakhir sebelum dirinya merengkuh gelar doktor.

Padahal, kata Trisye, saat waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, teman-temannya yang berasal Korea Selatan dan Taiwan selalu mengatakan, “Endang, ayo pulang”.

Trisye sadar harus bergegas untuk selesai, mengingat status dirinya sebagai mahasiswa yang dibiayai Pemerintah Indonesia.

Baca juga: Valentine Tak Melulu Cokelat, Ini Benda yang Bisa Kamu Beri untuk Pasangan