Indonesia Perlu Terus Kembangkan Bioenergi untuk Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

51
Alumnus Fakultas Biologi UGM ini menyarankan agar teknologi pengembangan biomass tidak berkompetisi dengan pengembangan sumber makanan masyarakat. Foto: Ist
Alumnus Fakultas Biologi UGM ini menyarankan agar teknologi pengembangan biomass tidak berkompetisi dengan pengembangan sumber makanan masyarakat. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Indonesia pernah berjaya sebagai negara penghasil dan eksportir minyak bumi pada 1991.

Akan tetapi, tahun 2004 menjadi titik balik bagi Indonesia, yang tadinya sebagai eksportir kemudian menjadi importir minyak bumi.

“Tipikal dari industri fosil energi akan menurun secara alamiah, karena kita hanya mengambil, tidak menghasilkan.”

“Padahal seiring dengan populasi yang terus bertambah, kebutuhan energi juga akan meningkat,” ungkap Senior Manager HSSE Sustainability INPEX Masela, Ltd Drs. Ali Dikri, MM.

Hal tersebut dia sampaikan dalam acara Biotalks bertajuk Pengembangan Energi Berbasis Biodiversitas Indonesia, yang digelar oleh Fakultas Biologi UGM beberapa waktu lalu secara daring.

Baca juga: Warga KAGAMA Balikpapan Ini Melihat Peluang Usaha dari Perantau yang Kangen Rumah

Ali menjelaskan, hal terebut bisa tampak dari semakin banyaknya orang memiliki kendaraan pribadi.

Sayangnya kondisi ini tidak diimbangi dengan kemampuan Indonesia mencari cadangan minyak bumi yang lain.

Indonesia kini bahkan tidak lagi menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Gap antara persediaan energi dan gaya hidup yang ada, kata Ali, justru semakin melebar.

Ali memberikan gambaran, eksplorasi cadangan minyak bumi dan gas pada tahun 2012-2016 semakin menantang.

Baca juga: Jangan Takut Produk Kemahalan, Setiap Harga Ada Pembelinya