Esti Hayu, Dosen Senior yang Santai Berkarier

679

Baca juga: Mengapa Remaja Melakukan Klithih di Yogyakarta?

Esti menambahkan, sampai ia mengarungi dunia profesional pun, memanggil kawan tidak harus dengan sebutan ‘Pak’ atau ‘Bu’, tetapi cukup dengan ‘Mba’ atau ‘Mas’, sehingga tampak lebih dekat dan akrab.

Suasana kekeluargaan ini yang membuat Esti betah menjadi bagian dari keluarga Fakultas Psikologi.

Perempuan berusia 63 tahun itu, tidak banyak mengikuti kegiatan non akademik.

Namun, kiprah Esti di luar akademik terbilang unik, karena ia aktif sebagai anggota Pecinta Alam Psikologi (PALAPSI), bahkan Esti juga ikut menginisiasi terbentuknya organisasi ini di tahun pertama kuliahnya.

“Waktu itu seneng saja bisa dolan. Tapi, kalau dulu kegiatannya tidak seberani sekarang. Zaman saya paling mendaki gunung yang dekat-dekat saja, itu pun tidak sampai puncak. Ke sungai juga cuma sekitaran Jogja. Kemudian sering camping juga,” ungkap Esti mengenang masa-masa di PALAPSI.

Baca juga: Cara Mengatasi Depresi bagi Mahasiswa Baru

Kuliah Sambil Jadi Perias Manten

Meskipun menikmati masa kuliah, perjalanan Esti sebagai mahasiswa juga tidak luput dari berbagai kesulitan.

“Keluarga saya waktu itu pas-pasan banget. Bapak saya sudah meninggal sejak saya SMP. Ibu saya harus membesarkan delapan putranya,” ungkap anak kelima dari delapan bersaudara itu.

Esti mengakui kehebatan ibunya berjuang dalam kondisi tersebut, sampai akhirnya ia berada di tahap ini.

Begitu juga dengan kakak laki-lakinya yang benar-benar banting tulang demi keluarga.

Ibunya sejak dulu sudah berpesan agar Esti bisa menempuh pendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya.

Baca juga: Macam-macam Unit Layanan Kesehatan di UGM

Namun, ibu Esti terkendala masalah keuangan, sehingga berharap agar anaknya itu bisa berusaha sendiri.

Dikisahkan oleh Esti, ibunya hanya bisa membiayai pendaftaran perguruan tinggi.

Bila Esti tak lolos, maka sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk sekolah tinggi, dan ibunya menyarankan dia untuk kursus menjahit saja.

Mendengar itu, sontak Esti langsung tertegun dan bertekad untuk lolos.

Bersyukur, berkat usaha dan doa, Esti bisa melanjutkan pendidikan tinggi.

Baca juga: Mengalami Bullying di Tempat Kerja? Hadapi dengan Cara Cerdas