Diskusi Kebangkitan Nasional KBRI Den Haag: Persatuan dan Kesatuan Indonesia adalah Sebuah Keajaiban

44
KBRI menggelar diskusi daring dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Kamis (20/5/2020) lalu. Foto: KBRI Den Haag
KBRI menggelar diskusi daring dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Kamis (20/5/2020) lalu. Foto: KBRI Den Haag

KAGAMA.CO, DEN HAAG – KBRI Den Haag dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda menyelenggarakan diskusi daring untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Diskusi yang digelar pada Kamis (20/5/2020) tersebut mengambil tema Memaknai Kebangkitan Nasional di Masa Sekarang.

Narasumber yang didatangkan dalam kesempatan kali ini ada tiga. Mereka adalah , Direktur Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), Prof. Gert Oostindie; Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat; serta Adrian Perkasa, kandidat doktor bidang sejarah dari Universitas Leiden, Belanda.

Adapun diskusi dimoderatori oleh Sekretaris Jenderal PPI Belanda, Bhagasjati Kusuma. Diskusi pun dibuka oleh oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

“Penting bagi masyarakat Indonesia merefleksikan Kebangkitan Nasional di masa Pandemi Covid-19 saat ini,” tutur Dubes Puja, dalam sambutannya.

Prof. Gert Oostindie. Foto: KBRI Den Haag
Prof. Gert Oostindie. Foto: KBRI Den Haag

Baca juga: Cerita Ketua KAGAMA Malang Saat Kuliah di Jurusan Sulit Sambil Jualan Handuk

“Budi Oetomo dan Sarekat Dagang Islam (SDI) dalam pergerakan nasional merupakan cikal bakal Kebangkatan Nasional dalam sejarah Indonesia,” lanjut pria yang lulus dari FISIPOL UGM pada 1985 tersebut.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Prof. Gert Oostindie mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda pada tempo dulu telah gagal.

Dalam hal ini, gagal memahami gerakan nasionalisme Indonesia pada awal abad ke-20.

Menurut Oostindie, ada 3 alasan mengapa pemerintah Belanda bersikukuh untuk mempertahankan kolonialisme di Indonesia yang kala itu bernama Hindia Belanda.

Kata dia, faktor-faktor tersebut dilatarbelakangi oleh alasan ekonomi, geopolitik dan etis.

Baca juga: Banyak Perempuan Abaikan Hoaks di Grup WhatsApp, Mengapa?