Cerita Ketua KAGAMA Malang Saat Kuliah di Jurusan Sulit Sambil Jualan Handuk

915
Saat kuliah di Kampus Kerakyatan, Yayat hidup dengan berbagai keterbatasan. Dia berjualan handuk untuk mencari tambahan uang saku. Foto: Dok Pri
Saat kuliah di Kampus Kerakyatan, Yayat hidup dengan berbagai keterbatasan. Dia berjualan handuk untuk mencari tambahan uang saku. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kebanyakan orang membuat sebuah perencanaan hidup dalam menempuh pendidikan. Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Dr. Nur Hidayat, MP.

Pada 1980 pria yang akrab disapa Yayat ini memilih kuliah di Jurusan Mikrobiologi Pertanian UGM, tanpa direncanakan sebelumnya.

Ketika itu, peminat jurusan ini masih langka. Terlihat dari jumlah mahasiswa seangkatan Yayat yang hanya berjumlah sepuluh orang, bahkan angkatan sebelumnya tidak ada mahasiswa sama sekali.

“Repotnya kita sebagai mahasiswa baru bingung mau berdiskusi dengan siapa terkait perkuliahan sebelumnya, karena kita nggak punya kakak tingkat. Tidak punya contoh-contih soal juga,” ungkapnya kepada Kagama belum lama ini.

Baca juga: Rita Menginisiasi Lahirnya Kolaborasi Pentas Seni di KAGAMA Komunitas

Yayat bercerita, dia bersama teman seangkatannya benar-benar tak mempunyai gambaran tentang jurusan yang mereka pilih.

Dengan jumlah teman seangkatan yang sedikit, Yayat berusaha menyesuaikan diri sebaik mungkin.

“Dengan jumlah mahasiswa yang sedikit itu, kekompakkan kita kuat. Segala hal kita lakukan bersama. Kita sering diskusi, sehingga belajar jadi lebih mudah. Sulitnya kuliah jadi tidak terasa,” ujar pria kelahiran 1961 ini.

Demikian juga para dosennya yang siap sedia membantu mahasiswa.

Yayat menduga, barangkali karena satu angkatan memiliki jumlah mahasiswa yang sedikit, dosen bisa fokus memberi perhatian akademik ke mahasiswa.

Baca juga: KAGAMA Farmasi Gandeng Komunitas SONJO Salurkan Bantuan APD ke RSUD Saptosari, Gunungkidul