Begini Cara Meningkatkan Kemampuan Sosial Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah

Anak berkebutuhan khusus.(Foto: Tempo.co)
Anak berkebutuhan khusus.(Foto: Tempo.co)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Penerapan pendidikan inklusif di Indonesia dimulai sejak tahun 2002 melalui pelaksanaan proyek uji coba di sembilan provinsi. Proyek tersebut berhasil mewujudkan 1.500 siswa berkebutuhan khusus untuk belajar di sekolah reguler.

Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017, pada 2016 terdapat 18 persen siswa berkebutuhan khusus yang belajar di sekolah inklusif. Selain itu, menurut Data Dinas Pendidikan DKI Jakarta tahun 2016, terdapat 257 penyelenggara sekolah dasar negeri inklusif di DKI Jakarta.

Berdasarkan angka partisipasi siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif yang terus meningkat dan jumlah sekolah inklusif yang paling banyak ada di jenjang sekolah dasar, dapat disimpulkan bahwa angka partisipasi siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusif cukup tinggi, terutama di Provinsi DKI Jakarta.

Tentu saja sekolah bukan satu-satunya agen yang terlibat dalam proses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Orang tua sebagai institusi  pendidikan pertama yang ditemui oleh anak-anak juga terlibat dalam proses pendidikan. Mereka ikut serta mendidik anak-anaknya dengan cara berkolaborasi dengan sekolah tempat anak mereka menimba ilmu.

Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif ternyata memberi efek tersendiri bagi anak-anaknya. Efek tersebut bisa ditemukan dalam jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Psikologi UGM dengan judul  Keterlibatan Orang Tua terhadap Keterampilan Sosial Siswa Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Inklusif (2018).