Obat Herbal Indonesia Sepadan dengan Obat Luar Negeri untuk Tangani Covid-19

1499
Diskusi daring bertajuk Herbal Indonesia untuk Covid-19 gelaran Fakultas Farmasi UGM membabar khasiat obat herbal Indonesia yang mampu tangani Covid-19. Foto: Pertanianku
Diskusi daring bertajuk Herbal Indonesia untuk Covid-19 gelaran Fakultas Farmasi UGM membabar khasiat obat herbal Indonesia yang mampu tangani Covid-19. Foto: Pertanianku

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Obat herbal dipercaya mampu mendukung terapi suportif atau komplementer dan simtomatik Covid-19.

Sebagai contoh, meminum racikan empon-empon seperti jahe, kunyit dan temulawak dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Agung Endro Nugroho,Ph.D.,Apt., mengungkapkan bahwa obat herbal di Indonesia mempunyai potensi lebih besar membantu mengatasi Covid-19, dibandingkan obat dari luar negeri.

Ada pun manfaatnya, bisa meningkatkan sistem imun, serta menyembuhkan flu dan demam.

Hal tersebut Agung paparkan dalam forum diskusi daring bertajuk Herbal Indonesia untuk Covid-19, pada Jum’at (01/05/2020).

Agung menyebut Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman terbesar ke-3 di dunia, termasuk tanaman obat.

Beberapa obat tradisional yang menjadi andalan, di antaranya jamu gendong, minuman tradisional, produk jamu, obat herbal terstandarisasi.

Baca juga: Wejangan Prof. Mubyarto yang Mengiri Perjalanan Hidup Ketua KAGAMA Sukoharjo

Meskipun demikian, pasar obat tradisional di Indonesia hanya 9 persen. Lebih rendah dari obat kimia yang mencapai 45 persen.

“Hal ini merupakan tantangan bagi Indonesia untuk memperluas pasar obat herbal,” jelasnya.

Dalam kesempatan serupa, GM Manufacture PT Air Mancur, Drs. Bambang Priyambodo menjelaskan, selama ini akses menjadi masalah utama terhambatnya pengembangan pasar obat tradisional.

“Siapa pun termasuk pegiat jamu, tidak bisa sembarangan mengakses rumah sakit.”

“Untuk uji coba saja, protokol kesehatan yang harus dipenuhi sulitnya luar biasa,” ujarnya.

Demikian juga terkait izin edar obat tradisional untuk dipasarkan atau dikonsumsi, harus melalui proses yang memakan waktu lama yakni, minimal enam bulan.

Bambang menjelaskan, barangkali kesulitan inilah yang membuat Indonesia belum bisa menciptakan jamu yang manjur. Dalam hal ini terbukti khasiatnya secara klinis.

Baca juga: Kunci agar Jamu Bisa Merebut Pasar Dunia Menurut Alumnus Farmasi UGM