Potensi Wisata Between Two Gates Kampung Alun-alun di Kotagede

832
diperlukan aktivitas yang membuat pemukiman menjadi lebih hidup. Misalnya dengan atraksi tarian.(Foto: intanaerum.com)
diperlukan aktivitas yang membuat pemukiman menjadi lebih hidup. Misalnya dengan atraksi tarian.(Foto: intanaerum.com)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sejak dulu Kotagede sangat terkenal dengan berbagai sejarah budaya. Salah satu yang mencolok dari daerah ini adalah sentra peraknya. Selain itu, terdapat juga berbagai bangunan-bangunan peninggalan sejarah dari cikal bakal Keraton yang masih dilestarikan.

Beberapa tahun belakangan, popularitas Kotagede meningkat dengan adanya kepopuleran pintu rumah tradisional Kotagede. Pintu ini seringkali dijadikan tempat berfoto bagi pengguna media sosial.

Melihat fenomena ini Yunisa Asrianie melihat bahwa Kotagede kental akan nuansa tradisional. Nuansa ini berasal dari corak arsitekturnya yang tradisional dan bercampur gaya Belanda.

“Kotagede memiliki citra sebagai sentra perak dan kawasan kota tua. Sehingga dapat disimpulkan bahwa atmosfer yang tercipta di Kotagede memberikan pengalaman suasana Kota Tua bagi wisatawan,” tulis Yunisa dalam tesisnya yang berjudul Potensi Pemukiman Rumah Tradisional Kotagede Sebagai Obyek Wisata tahun 2016.

Adanya corak bangunan tradisional ini membuat Kotagede mempunyai kemungkinan untuk menjadi atraksi wisata Kota Tua Kotagede.

Ada pun Catur Gatra Tunggal yang merupakan peninggalan Keraton, kini berusaha dihidupkan kembali. Catur Gatra Tunggal terdiri dari Pasar Kotagede, Masjid Gedhe, dan Kampung Alun-alun.

Tak hanya dari bangunan dan coraknya, mata pencaharian sebagai pengrajin perak, emas, dan tembaga juga merupakan sisa-sisa peninggalan Keraton yang dulunya dipunyai abdi dalem. Berbagai peninggalan ini akhirnya membuat pola pemukiman yang mirip satu sama lain, dan tidak ditemukan di daerah lain di Jawa.

Yunisa kemudian menamai pola pemukiman ini dengan sebutan Between Two Gates, yakni deretan rumah melintang dari timur ke barat dengan bangunan utama menghadap ke selatan, kemudian dibatasi dengan pintu di ujung jalan timur ke barat.

Kampung Alun-alun merupakan salah satu wilayah di Kotagede yang memiiki pola pemukiman Between To Gates. Namun, setelah ditelusuri, Between Two Gates juga tersebar di beberapa wilayah Kotagede.

Gempa Yogyakarta tahun 2006 lalu telah menimbulkan banyak kerusakan terhadap bangunan-bangunan tradisional di Kotagede. Tidak heran jika wisatawan lebih mengenal Kotagede sebagai pusat sentra perak daripada kawasan Kota Tua.

Pola rumah yang berlorong-lorong sebetulnya kental akan sejarah, budaya, dan arsitektural yang unik. Namun, image Kota Pengrajin Perak membuat para tour guide seringkali hanya mengajak para wisatawan ke kerajinan peraknya.