Selasa, 16 Juli 2024 | 07:22 WIB

PANELTECH.US dan APKASINDO Kolaborasi Kembangkan Pupuk Probiotik Ramah Lingkungan untuk Kelapa Sawit

KAGAMA.CO, JAKARTA – Di Indonesia, para petani sawit menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Disparitas harga yang melanda industri ini telah menghantui mata pencaharian mereka, dengan biaya pupuk kimia yang melonjak tinggi dan gangguan dalam rantai pasokan.

Sanksi Barat terhadap Rusia dan Belarusia semakin memperburuk situasi ini, menyebabkan kelangkaan pupuk dan harga yang tidak terjangkau bagi para petani.

Akibatnya, kesehatan dan produktivitas perkebunan sawit terancam, dan rantai pasokan minyak kelapa sawit global tergantung pada keadaan ini.

Tantangan-tantangan ini terutama dirasakan oleh petani kecil yang menjadi korban utama dari hambatan-hambatan ini.

CEO PANELTECH.US. Corp Leiven Tsai (kedua dari kanan) dan Senior Advisor untuk Indonesia Eddy Purjanto (pertama dari kiri) diterima Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia (kemeja putih) di kantornya. Foto: Kementerian Investasi dan BPKM
CEO PANELTECH.US. Corp Leiven Tsai (kedua dari kanan) dan Senior Advisor untuk Indonesia Eddy Purjanto (pertama dari kiri) diterima Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia (kemeja putih) di kantornya. Foto: Kementerian Investasi dan BPKM

Meskipun mereka bekerja dengan tekun, mereka kesulitan membeli pupuk yang diperlukan untuk menjaga pertumbuhan pohon kelapa sawit mereka.

Sayangnya, pemulihan dari krisis Covid-19 telah memperburuk kesulitan mereka, karena subsidi pemerintah sering tidak mencapai petani skala kecil ini.

Situasi yang mencekam ini menuntut perhatian dan solusi yang bisa diandalkan untuk menjamin masa depan yang menjanjikan baik bagi para petani maupun industri minyak kelapa sawit global.

Selama ini pupuk kimia telah memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk perkebunan kelapa sawit.

penggunaan yang meluas membawa konsekuensi lingkungan yang serius.

Penerapan berlebihan dari pupuk-pupuk ini menyebabkan degradasi tanah, menurunkan kesuburan dan mengganggu proses alami penting seperti aktivitas mikroba, retensi air, dan siklus nutrisi.

Selain itu, aliran limbah dari penggunaan berlebihan bahan kimia mencemari perairan, menyebabkan eutrofikasi dan merusak ekosistem air.

Dampak negatifnya juga meliputi pengasaman tanah, ketidakseimbangan nutrisi, kesehatan tanaman yang menurun, dan produktivitas yang menurun.

Selain itu, produksi dan penggunaan pupuk kimia berkontribusi terhadap pemanasan global melalui pelepasan gas nitrat (N2O), gas rumah kaca yang kuat.

N2O mengancam iklim planet ini dan memperburuk pemanasan global.

Dengan potensi pemanasan global yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan karbon dioksida (CO2), N2O meningkatkan efek rumah kaca dengan menjebak panas di atmosfer.

Umurnya yang panjang, lebih dari satu abad, memperbesar dampaknya pada planet ini.

Konsentrasi N2O yang meningkat menyebabkan peningkatan suhu, pola cuaca yang terganggu, kenaikan permukaan air laut, peristiwa cuaca ekstrem, dan gangguan ekologis.

Mengatasi dan mengurangi emisi N2O sangat penting untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim dan mendorong keberlanjutan lingkungan.

Mengakui kebutuhan mendesak untuk mengatasi perubahan iklim dan masalah lingkungan, perhatian telah beralih ke praktik pertanian beremisi rendah.

Penggunaan pupuk kimia, yang secara signifikan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, merupakan tantangan unik di sektor pertanian.

Pupuk berbasis nitrogen, khususnya, melepaskan jumlah besar N2O ke atmosfer.

Selain itu, proses produksi dan transportasi yang membutuhkan energi yang intensif terkait dengan pupuk kimia juga berkontribusi terhadap emisi karbon.

Praktik pertanian berkelanjutan yang mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memberikan prioritas pada kesehatan tanah sangat penting untuk mengatasi masalah lingkungan ini.


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA