Harga Kedelai Naik, Pertanda Baik bagi Petani Lokal?

211
Harga produk kedelai akibat fluktuasi pasokan di Pasar Global saat ini berpotensi mengalami kenaikan. Foto: Ist
Harga produk kedelai akibat fluktuasi pasokan di Pasar Global saat ini berpotensi mengalami kenaikan. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Harga produk kedelai akibat fluktuasi pasokan di Pasar Global saat ini berpotensi mengalami kenaikan.

Di sisi lain, Kebutuhan kedelai Nasional saat ini mencapai 3.4 juta sampai 3.6 juta ton per tahun.

Namun sebanyak hampir 90% kebutuhan tersebut dipenuhi kedelai impor asal Amerika.

Demikian disampaikan peneliti kedelai Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T. di UGM, Kamis (11/6/2021).

Di sektor hilir, sebagian besar antara 2,7 juta ton sampai 2,8 juta ton kedelai setiap tahunnya dipergunakan untuk produksi tahu dan tempe.

Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T. Foto: Kagam
Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T. Foto: Kagam

Baca juga: Ganjar Ajak Masyarakat Tidak Kendor Lawan Covid-19

“Potensi kenaikan harga produk kedelai akan sangat berdampak terhadap produksi tahu dan tempe di tingkat pengrajin.”

“Ketergantungan produksi para pengrajin ditentukan dengan salah satunya harga bahan baku kedelai,” ujar Ketua Program Doktor Program Studi Doktor Teknologi Industri Pertanian FTP UGM ini.

Menurut Atris, kenaikan harga produk kedelai membuat para pengrajin tahu dan tempe akan berusaha dengan berbagai cara untuk tetap melangsungkan kegiatan usahanya.

Jika tidak menaikkan harga, kata Atris, upaya yang paling banyak dilakukan pengrajin tahu dan tempe adalah dengan memperkecil ukurannya.

Data dari tradingeconomics.com, harga kedelai per 1 Mei 2021 telah naik menjadi US$15,52 per gantang, dari harga sebelumnya pada April 2021 di kisaran US$ 14,33 per gantang.

Baca juga: Budi Karya Sumadi: Karya Sastra Tumbuhkan Optimisme