Peneliti Alumnus UGM Sebut Hal yang Ditengarai Membuat Covid-19 di Indonesia Tak Kunjung Reda

894
Peneliti alumnus Fakultas Teknik UGM, Dr. Joko Hariyono, S.T., M.Eng, mencermati 100 hari penanganan Covid-19 di Indonesia. Foto: Ayo Semarang
Peneliti alumnus Fakultas Teknik UGM, Dr. Joko Hariyono, S.T., M.Eng, mencermati 100 hari penanganan Covid-19 di Indonesia. Foto: Ayo Semarang

KAGAMA.CO, JOGJA – Penambahan kasus terkonfirmasi positif virus corona di Indonesia belum kunjung berhenti.

Gugus Tugas Nasional secara total mencatat ada 36.406 kasus postif Covid-19 hingga Jumat (12/6/2020).

Siapa yang bisa menjamin bila kasus ini tidak akan jadi separah itu?

Demikian renungan Dr. Joko Hariyono, S.T., M.Eng mengenai 100 hari penanganan corona di Indonesia, yang disampaikan kepada Kagama.

Realitas penambahan jumlah kasus yang terjadi di tanah air saat ini benar-benar di luar dugaan Joko.

Peneliti alumnus Fakultas Teknik UGM, Dr. Joko Hariyono, S.T., M.Eng., memaparkan prediksi fase dalam wabah Covid-19. Foto: Taufiq Hakim
Dr. Joko Hariyono, S.T., M.Eng. Foto: Taufiq Hakim

Baca juga: Penelitian di Bidang Kesehatan Harus Jadi Prioritas

Sebab, Indonesia sekarang seharusnya telah melewati periode puncak sejak minggu kedua Mei 2020. Yakni 70-100 hari setelah kasus pertama, ketika penambahan jumlah yang positif mulai melandai.

Hal itu berdasarkan penelitiannya beberapa waktu lalu yang berjudul Prediksi Periode Penyebaran Kasus Covid-19 berbasis Konteks.

Padahal, hingga 30 April 2020, akurasi prediksi Joko dalam penelitiannya mencapai 95 persen.

“Realitas data yang ada justru bertolak belakang. Pada minggu kedua Mei 2020, tren penambahan angka kasus justru sangat signifikan,” ucap Joko.

“Semula rata-rata harian di angka 300 – 400 kasus, tetapi pada 13 Mei 2020 terjadi penambahan sebanyak 689.”

Baca juga: Tanya Jawab tentang Rasisme dan Diskriminasi Papua