Selain Rawan Diselingkuhi, Berikut Dampak Negatif Pernikahan Anak

568

Baca juga: Trauma Saat Anak-anak Sebabkan Gangguan Kepribadian pada Wanita

Hal itu membuat anak yang telah menikah masih menjadi tanggungan keluarganya.

Akibatnya, selain harus menghidupi keluarga, orang tua mesti membiayai kehadiran anggota keluarga baru.

Dampak kedua adalah sosial.

Perkawinan anak memiliki potensi perceraian dan perselingkuhan pada pasangan muda yang baru menikah.

Hal ini dapat disebabkan karena emosi yang belum stabil dari sepasang suami-istri.

Sehingga, mudah sekali terjadi pertengkaran sekalipun menghadapi masalah kecil.

Pertengkaran terkadang juga menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan dalam hubungan seksual.

Baca juga: Pasar Indonesia di Pretoria Meriah, Hubungan Indonesia-Afrika Selatan Makin Erat

Beberapa kasus pernikahan karena hamil terlebih dahulu juga membuat mereka kurang bisa dierima oleh keluarganya sendiri maupun lingkungan.

Selanjutnya, ada dampak kesehatan.

Menikah muda memiliki risiko tidak siap melahirkan dan merawat anak.

Sedangkan bila memutuskan aborsi, tindakan aborsi yang dilakukan tidak aman.

Di sisi lain, seandainya kehamilan dipertahankan, ada kecenderungan menutup-nutupi karena rasa malu.

Alhasil, si ibu dan bayi dalam kandungan tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.

Dampak yang terakhir adalah psikologis.

Lompatan perubahan peran secara drastis dari remaja menjadi orang tua tidak jarang menimbulkan penyesalan.

Terutama bagi remaja perempuan.

Berdasarkan salah satu kasus di daerah Banyuwangi, ada remaja perempuan yang menikah karena kehamilan tidak diinginkan dan mengalami kekerasan rumah tangga.

Puncaknya, pernikahannya hanya berumur tiga bulan karena bercerai telah menjadi putusan.

Remaja perempuan yang sudah menikah muda juga cenderung minder, mengurung diri, dan tidak percaya diri. (Tsalis)

Baca juga: Mendidik Anak SD Agar Tidak Obesitas