Selain Rawan Diselingkuhi, Berikut Dampak Negatif Pernikahan Anak

567

Baca juga: Berbagai Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menabung

Perempuan berusia antara 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal dunia lima kali lebih besar ketimbang perempuan dengan umur 20-25 tahun pada masa kehamilan.

Selain itu, berbagai dampak buruk juga memiliki peluang membuat perempuan muda merugi, seperti stres dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Berangkat dari fakta-fakta yang telah ditemukan, Djamilah dan Reni Kartikawati terlecut untuk menguak sisi negatif dari pernikahan anak.

Mereka pun lantas tergerak untuk melakukan penelitian dengan judul Dampak Perkawinan Anak di Indonesia.

Penelitian Djamilah dan Reni masuk dalam Jurnal Studi Pemuda terbitan Fisipol UGM tahun 2014.

Djamilah dan Reni dibantu dengan beberapa organisasi sadar Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual (PKRS) mengambil tempat penelitian di delapan kota berbeda dengan dua kategori pada selang 15 Juni – 4 Juli 2014.

Kategori pertama adalah kota-kota yang mendapatkan pendampingan PKRS, yaitu DKI Jakarta, Lampung, Semarang, dan Banyuwangi.

Baca juga: Ingin Lulus Tes CPNS 2019? Ini Kiat-Kiatnya

Sedangkan kategori dua, kota variabel kontrol, yakni Sukabumi, NTB, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan hasil penelitaian, pernikahan anak secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Hal itu seperti pendidikan, kurangnya pemahaman terhadap kesehatan reproduksi, ekonomi, budaya, dan dijodohkan.

Sementara itu, Djamilah dan Reni menemukan setidaknya empat dampak pernikahan anak.

Dampak yang pertama adalah ekonomi.

Pernikahan anak acapkali menimbulkan siklus kemiskinan.

Penyebabnya adalah, anak yang menikah belum mapan atau tidak memiliki pekerjaan karena tingkat pendidikan yang rendah.

Baca juga: Peraih IPK Tertinggi se-UGM Ini Ingin Jadi Peternak Unggas