Senin, 27 Mei 2024 | 07:42 WIB

Anak Cacat Lahir Bukan Hukuman dari Tuhan

Baca juga: Olahraga Sederhana yang Dapat Dilakukan di Tengah Kesibukan

Purnomo kemudian memperoleh gelar DTM&H dari Faculty of Tropical Medicine and Hygiene, Mahido University School of Medicine tahun 1996.

Gelar D.Sc (Hon)-nya dia raih dari Open University for Altenative Medicine (Alma Alta-WHO Decl.1978) Colombo 1998.

Sementara itu, di bagian lain dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, Purnomo juga mengungkapkan hal lain.

Purnomo mengungkapkan soal xenotransplatation atau transfer organ antarspesies.

Menurutnya, hal itu sangat ditunggu dan diharapkan oleh ribuan orang di Indonesia.

Baca juga: Jangan Anggap Tabu, Anak Perlu Menerima Edukasi Seks Sejak Dini

Selain itu, muncul perkiraan bahwa keuntungan dari bisnis tersebut dapat mencapai keuntungan 6 miliar dolar Amerika Serikat per tahun.

Perkiraan tersebut diungkapkan pada tahun 2001 dan diprediksi bisa saja terjadi ketika memasuki tahun 2010.

Menurut Purnomo, keuntungan dari bisnis xenotransplatation tersebut memang prosprektif.

Ada kekhawatiran cara ini dapat mentransfer penyakit hewan pada manusia, tetapi jaminan risiko infeksi dapat dihindari.

Purnomo juga mengungkapkan sebuah contoh xenotransplatation.

Baca juga: Maryanto: Saya Satpam, Anak Nggak Boleh Jadi Satpam!

Menurutnya, manusia dapat hidup selama 71 hari dengan transplantasi hati baboon atau sejenis kera.

Manusia juga dapat hidup Sembilan bulan dengan ginjal simpanse.

Namun demikian, binatang-binatang tersebut kurang prospektif.

Hal itu karena jumlah binatang tersebut sangat sedikit.

Selain itu, simpanse dan baboon tak dapat diternakkan.

Baca juga: Keuntungan Menjadi Anak Sulung

Risiko lain yang dapat ditimbulkan dari penggunaan organ baboon dan simpanse pada manusia adalah mudahnya transfer penyakit pada resipien atau penerima organ.

Hal itu karena baboon dan simpanse merupakan spesies yang sangat dekat dengan manusia.

Selain itu, organ kedua hewan tersebut kurang sesuai dengan ukuran organ manusia.

Para ahli kemudian melihat hewan lain, yaitu babi, yang dapat digunakan.

Babi dipandang tak akan menimbulkan protes, lantaran setiap harinya disembelih untuk konsumsi.

“Ketika babi diambil organnya, tentu tak ada protes dari organisasi pecinta hewan,” kata Purnomo. (Ezra)

Baca juga: Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA