Minggu, 26 Mei 2024 | 09:38 WIB

Membincang Buku Kesenian Reog Ponorogo di Jawa Timur

“Tapi ini runtut dan sederhana. Mulai tentang tontonan, sampai ke pagelaran, lalu terkait ruang waktu, sehingga apa itu dunia pagelaran itu diceritakan dengan simpel dan dalam,” ungkap Nugroho.

Kekuatan selanjutnya dari buku ini adalah isinya yang mengakomodasi dua hal. Yaitu terkait dunia kajian dan dunia praktik. Dua dunia yang dibahas sederhana dalam buku ini menjadi tulang punggung Konten dari buku.

Lono mengaku butuh satu tahun penuh untuk bisa meneliti Reog Ponorogo ini. Ia bahkan tidak hanya menjadi peneliti, namun juga turut berpartisipasi dalam setiap pagelaran Reog Ponorogo di berbagai kelompok.

“Saya mengikuti berbagai kelompok seperti punya Mbah Wo, Pak Dhermo. Main ke tempat Mbah Wikan sampai Andulu. Pokoknya ikut mengalami kehidupan kelompok-kelompok Reog,” kenang Lono.

Hal ini yang kemudian bagi Nugroho membuat tulisan Lono tidak hanya berisi pengetahuan, namun juga bisa menciptakan suasana dimana pembaca turut ikut masuk dalam tulisan.

Kekuatan ketiga dari buku ini ialah adanya muatan kesusastraan penulis yang terlihat dari pemilihan kata yang digunakan. Sehingga memperlihatkan sisi-sisi lain dari penelitian itu. Belum lagi sisipan unsur personal pengalaman pribadi penulis juga menjadikan buku ini menarik dibaca.

Lono, sebagai penulis mengaku tujuan ia menerbitkan buku ini selain karena dorongan dari rekan-rekan, juga karena ingin menampilkan reog sebagai bentuk pertunjukan. Bukan hanya perihal muatan legendanya saja.

“Judul Play and display dipilih karena  sebagian besar seni pertunjukan rakyat kita itu cara menjelaskan dan pemaknaan itu hanya naratif. Tari ini menggambarkan perjuangan, dalam pertunjukannya tidak ada,” terang Lono.

Ia juga menambahkan bahwa banyak pertunjukan yang tidak naratif dalam kesenian rakyat di tanah air. Sehingga ia ingin menyampaikan bahwa pertunjukan tanpa narasi justru memiliki makna dari cara mempraktikkannya.

“Makna dari kesenian tidak hanya dari teks legenda tapi juga dari praktik yang dilakukan. Nah, saya ingin berbagi tentang itu,” Pungkas Lono.(Rosa)


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA