Bincang Buku Negara Melodrama, Ilustrasikan Fenomena Sosio-Kultural Politik Hari Ini

219
Gosip memiliki peran besar terhadap kehidupan. Jangan-jangan benar jika kita hidup dari gosip.(Foto: Kinanthi)
Gosip memiliki peran besar terhadap kehidupan. Jangan-jangan benar jika kita hidup dari gosip.(Foto: Kinanthi)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Saat ini masyarakat tiba-tiba menjadi cenderung melodrama. Tidak hanya sebagai penonton, masyarakat kemudian menjadikan tontonan sebagai cara mengkonsumsi, mengolah informasi, dan mengemas kehidupan, termasuk mengemas pandangan politik.

Demikian disampaikan oleh Garin Nugroho dalam acara Bincang Buku Negara Melodrama karya Garin Nugroho di Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (02/04/19). Acara ini menghadirkan Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) sebagai pembahas, dan Kris Budiman sebagai moderator.

Kumpulan esai sosial kultural politik hari ini terangkum dalam buku Negara Melodrama. “Kemasan dan pengemasan” menjadi dua kata kunci untuk memahami konsep melodrama dalam buku ini.

Menurut Garin, orang senantiasa menggali sisi ekonomis dari berbagai hal yang ia temui, bahkan sampai melupakan esensi dan nilai-nilai aslinya. Salah satunya dunia politik dalam pertelevisian yang kian kacau dan semakin jauh dari etika. Politik kini adalah suatu produk yang dikonsumsi masyarakat sebagai hiburan.

Kekacauan dunia media ini erat kaitannya dengan kehidupan politik hari ini. Permainan politik lebih menuju ke arah hiburan, tanpa organisasi politik yang baik. Garin mencontohkan acara Debat Capres yang beberapa kali diadakan, diselipkan beberapa kali iklan. Menurutnya kebiasaan ini sudah menyalahi aturan penyiaran televisi.

Ada lagi istilah “cinta monyet” yang kini sedang dialami para pendukung masing-masing pasangan calon presiden. Artinya tidak sedikit diantara para pendukung ini yang menentukan pilihannya berdasarkan berbagai pertimbangan yang tidak logis. Kemudian ditambah dengan perilaku “mengemas” diri juga ada pada masing-masing calon presiden.