Triswheat, Penyembuh Luka Penderita Diabetes

36

BULAKSUMUR, KAGAMA – Penyakit diabetes mellitus selama ini diasumsikan sebagai penyakit yang sulit disembuhkan apabila penderitanya mengalami luka. Luka pada penderita diabetes mellitus semakin parah jika terinfeksi bakteri MRSA (Methil Resisten Staphylococus Aureus). Akibatnya, banyak penderita diabetes mellitus harus diamputasi.

Sementara itu, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia menempati urutan terbanyak ketujuh di dunia. Indonesia juga berada di urutan keempat dalam hal prevalensi diabetes tertinggi di dunia setelah India, China dan Amerika Serikat. Bahkan, jumlah pengidap diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama diabetes mellitus tipe dua. Menurut perkiraan WHO, jumlah penderita diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia akan megalami peningkatan secara signifikan hingga 21,3 juta jiwa pada  2030 mendatang.

Beberapa persoalan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Kelompok PKM-Penelitian Eksakta Triswheat. Mereka menciptakan solusi penyembuh luka diabetes mellitus dengan ekstrak teripang. Berdasarkan riset mereka, teripang diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif yang potensial sebagai antibakteri,anti-inflamasi dan mempercepat penyembuhan luka.

Kelompok mahasiswa yang terdiri dari Nada Hanifah, Yusuf Farid Achmad, Mellya Permatasari, Marista Kurniati, keempatnya dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, serta Ditya Tiwi Syafira dari Fakultas Farmasi UGM, membuat produk bernama Triswheat (Teripang Super Wound Healing Agent).

Contoh Triswheat hasil kreasi mahasiswa UGM dikemas dalam bentuk nano spray (Foto Humas UGM)
Contoh Triswheat hasil kreasi mahasiswa UGM dikemas dalam bentuk nano spray (Foto Humas UGM)

Triswheat menjadi solusi penyembuhan luka bagi penderita diabetes mellitus. Obat tersebut berbeda dengan obat pada umumnya. Bila obat yang beredar pada umumnya kebanyakan dalam sediaan berupa krim atau salep. Sedangkan inovasi yang dibuat dalam Triswheat berupa nano spray.

“Sediaan tersebut diharapkan mampu lebih cepat menyerap ke dalam kulit. Selain itu, sediaan dalam bentuk spray sangat mudah dan praktis untuk diaplikasikan,”papar Nada, Rabu (14/6/2017) di Kampus UGM.

Pembuatan Triswheat diawali dengan penelitian yang dilakukan melalui ekstraksi teripang. Selanjutnya, melakukan uji difusi yang bertujuan untuk mengetahui zona hambat bakteri dan menetukan konsentrasi efektif dari ekstrak teripang yang mampu menghambat atau mematikan bakteri dengan berbagai konsentrasi bertingkat.

Hasil dari uji difusi ini akan didapatkan konsentrasi efektif yaitu pada konsentrasi 40%. Setelah melewati uji difusi, tahap berikutnya yakni dilakukan uji dilusi untuk memastikan bahwa hasil dari uji difusi telah valid.

Setelah tahap terakhir yang dilakukan yakni uji in vivo menggunakan tikus yang diinduksi diabetes dan diinfeksi dengan bakteri MRSA ( Methil Resisten Staphylococus Aureus) dan diobati dengan menggunkan ekstrak teripang. Setelah 14 hari, luka tersebut sembuh. [Humas UGM/Catur/rts]