KAGAMA.CO, ASMAT – Masalah  gizi buruk di Agats, Asmat, Papua mendapat perhatian serius dari Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Disaster Response Unit (DERU). Tim terdiri tujuh orang di bawah koordinasi Sekretaris Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM, Dr. Rachmawan Budiarto serta Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat, Nanung Agus Fitriyanto, Ph.D menangani masalah gizi buruk tersebut.

Rachmawan menuturkan, pengiriman tim DERU UGM  dibagi dua gelombang, yakni Rabu (24/1/2018) dan Kamis (25/1/2018) lalu. Tim DERU akan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten setempat, Kemenkes, dan TNI dalam penanganan masalah gizi buruk dan berbagai dampaknya.

“Ini nanti sekaligus menyiapkan tim UGM selanjutnya (jumlah lebih besar) untuk program multidisiplin jangka menengah,” papar Rachmawan ketika dihubungi  wartawan, Minggu (28/1/2018).

Yang dilakukan tim di sana, kata Rachmawan, antara lain aktif  rapat koordinasi dengan Satgas yang dipimpin oleh Danrem (selaku Dan Satgas) serta Bupati, melakukan diskusi dengan Pemkab, TNI, dan Kemenkes, dan terjun langsung di beberapa distrik.

“Tim UGM juga memasang sistem sel surya 200 Wp di Puskesmas setempat yang belum ada listrik PLN guna menunjang operasional layanan kesehatan,” katanya.

Rachmawan menggambarkan kondisi lapangan di sana seperti transportasi di Timika – Agats yang sangat terbatas. PLN juga baru menjangkau dua dari 23 distrik. Ia melihat penanganan kondisi darurat telah berjalan baik  yang dilakukan oleh Pemkab, TNI, Polri, Kemenkes, gereja, unsur adat, LSM, serta sejumlah institusi/lembaga lainnya.

“Kondisi sosial budaya suku Asmat memberi tantangan berat dalam peningkatan aspek kesehatan dan kesejahteraan,” urai Rachmawan.

Senada dengan itu, Nanung mengatakan ada beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan di Agats. Rekomendasi itu, antara lain dukungan sistemik komprehensif kepada Kabupaten Asmat (tidak hanya Distrik Agats) sebagai tindak lanjut  penanganan kondisi darurat. Selain itu, diperlukan program menengah, antara lain dalam bentuk pengiriman sejumlah tim multidisiplin.

“Dalam waktu dekat pengiriman tim yang terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, dan dokter kesehatan masyarakat sangat diperlukan. Untuk program menengah perlu juga bersinergi dengan multi stakeholders dalam mendukung Kabupaten Asmat dalam pembangunan di sektor infrastruktur dasar, seperti listrik dan air bersih serta kesehatan lingkungan,” tambah Nanung.

Seperti diketahui, hingga saat ini total yang meninggal dunia di Kabupaten Asmat adalah 70 orang, terdiri atas 66 orang karena campak dan empat orang karena gizi buruk.

Sumber :

Bagian Humas dan Protokol UGM