Peneliti UGM Sebut Salat juga Punya Peranan untuk Kesehatan Manusia

230
Melalui salat, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga kesehatan. Foto: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
Melalui salat, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga kesehatan. Foto: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Manusia memang memiliki fitrah untuk merasakan sakit pada waktu tertentu.

Orang-orang yang sudah merasakan sakit tentunya akan melakukan beragam upaya untuk mendapatkan kesembuhan.

Ada yang hanya beristirahat, mengonsumsi obat-obatan, dan ada juga yang sampai melakukan operasi demi mengangkat penyakitnya.

Namun, Dr. dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, SP.DLP, AAK, menilai, kesehatan ada di dalam diri manusia sendiri.

Karena itu, hal yang mesti dilakukan oleh seorang manusia adalah menumbuhkan ungkapan (pola pikir) sehat.

Meskipun demikian, obat juga kadang-kadang dibutuhkan.

Keyakinan itu dia nyatakan dalam Sarasehan Obat dan Pengobatan Tradisional yang digagas Dewan Guru Besar (DGB) UGM, Senin (9/12/2019) di Grha Sabha Pramana.

Dr. dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, SP.DLP, AAK, menilai, kesehatan ada di dalam diri manusia sendiri. Foto: Tsalis
Dr. dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, SP.DLP, AAK, menilai, kesehatan ada di dalam diri manusia sendiri. Foto: Tsalis

Baca juga: Ada Skincare di Tengah Stan Jamu Festival Obat dan Pengobatan UGM

Mengutip salah seorang pakar, Dr. Bondan percaya bahwa generasi milenial, yang berumur sekitar 16-35 tahun, memiliki tingkat stres tinggi dalam sejarah manusia.

Padahal, kehidupan manusia generasi milenial jauh lebih maju dan modern ketimbang generasi-generasi sebelumnya.

“Artinya apa, kemajuan dunia yang sedemikian cepat ini tidak serta merta membuat manusia bahagia,” ujar Dr. Bondan.

Pada era yang serba maju ini, teknologi dipandangnya memang memudahkan dan menyamankan manusia dalam melakukan sesuatu.

Namun, muaranya tidak seperti yang diharapkan.

Peneliti Pusat Kajian Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan FK-KKM UGM ini pun memberi contoh kasus di Jepang, yang notobene merupakan negara maju.

“Ternyata penyakit terbesar dan paling banyak diderita di sana adalah sakit jiwa,” ujar Dr. Bondan, mengenang saat dia menyambangi Negeri Sakura beberapa waktu lalu.

Baca juga: Mau Nonton Final Sepak Bola SEA Games 2019? Siapkan Hal Berikut