Musim Kemarau Tiba, Virus Corona Tiada?

534
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono menyebut, ada kemungkinan terjadi perlambatan persebaran Covid-19 di negara-negara tropis seperti Indonesia. Foto: Nurrokhman
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono menyebut, ada kemungkinan terjadi perlambatan persebaran Covid-19 di negara-negara tropis seperti Indonesia. Foto: Nurrokhman

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Suhu dan kelembaban udara merupakan faktor lingkungan yang memengaruhi penyebaran virus Corona (SARS-CoV-2).

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono.

Budi merujuk pada salah satu penelitian yang mengindikasikan bahwa suhu yang relatif lebih dingin dengan kelembaban udara rendah membuat virus Corona lebih cepat menyebar.

Hal ini mirip dengan dua virus pendahulu, SARS-CoV-1 dan MERS-CoV, yang telah terbukti penyebarannya meningkat ketika suhu dan kelembabannya rendah.

“Penyebaran SARS-CoV-1 pada suhu rendah meningkat hingga 18 kali dibanding pada suhu hangat,” kata Budi, merujuk pakar.

Baca juga: KAGAMA Samarinda Sumbang APD untuk Cegah Penularan Covid-19 Sekaligus Perkuat Solidaritas Organisasi

“MERS-CoV dapat bertahan sebagai droplet dalam jangka waktu lama pada lingkungan dengan suhu dan kelembapan rendah,” tambahnya dari penelitian lain.

Fenomena di negara-negara subtropis bagian utara bumi, yang tengah mengalami musim dingin, pun jadi buktinya.

Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Prancis, dan Jerman, merupakan negara dengan jumlah kasus terbanyak Covid-19 hingga saat ini.

Penelitian lain yang dirujuk Budi menyatakan, peningkatan 1 derajat Celsius akan menurunkan jumlah kasus hingga 68 persen.

Fakta-fakta tersebut lantas menimbulkan tanda tanya seperti apa kelak yang terjadi di Indonesia.

Baca juga: Dekan Fakultas Biologi UGM Sebut 2 Faktor Lingkungan yang Berpengaruh Terhadap Penyebaran Virus Corona