Kiat Mengurangi Kebiasaan Berutang

29
Ilustrasi: Kebiasaan utang yang dibiarkan bakal menimbulkan beban keuangan hingga psikologis. Foto: kompas.com
Ilustrasi: Kebiasaan utang yang dibiarkan bakal menimbulkan beban keuangan hingga psikologis. Foto: kompas.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Uang saku bulanan yang pas-pasan terkadang membuat mahasiswa terpaksa ngutang di warung atau pinjam uang untuk menyambung hidup.

Terkadang ini menjadi pengalaman yang memprihatinkan sekaligus lucu, karena bisa menjadi bahan cerita ke anak cucu.

Namun, jangan lantas berbangga diri karena sering berhutang.

Kebiasaan berhutang jika diteruskan dapat merugikan diri sendiri.

Sering berutang dapat membahayakan keseimbangan finansial.

Jika kamu adalah seorang mahasiswa yang mempunyai bisnis besar dan sudah settle, maka berutang bisa menjadi hal yang wajar, terutama untuk keperluan modal bisnis.

Namun, bagaimana jika kamu belum memiliki penghasilan sendiri dan berutang untuk kebutuhan konsumsi?

Pastinya melunasi utang menjadi sesuatu yang sulit, karena perputaran uang pinjaman kamu ibarat gali lubang tutup lubang, tidak ada ujungnya.

Bila sudah terlanjur, coba mulai kurangi kebiasaan berutang dengan trik berikut.

Baca juga: Mengurangi Kebiasaan Belanja Impulsif

Jangan Menunda Cicilan Pelunasan Hutang

Cicilan pelunasan utang sebaiknya menjadi prioritas yang harus diselesaikan setelah menerima uang saku bulanan.

Bila melulu ditunda, tentu ini akan menjadi beban moral tersendiri bagi orang yang meminjamkan uang kepadamu, belum lagi utang bisa semakin menumpuk dan memberatkanmu.

Untuk itu, berusahalah membayar utang tepat waktu.

Alokasikan sekian persen untuk membayar utang setiap kali kamu menerima uang saku.

Hapus Pola Pikir ‘Uang Bisa Dicari’

Pola pikir demikian tidak selalu berbuah positif.

Dalam persoalan utang, pola pikir ini bakal memperburuk kondisimu.

Selamanya kebiasaan utang kamu tidak akan berhenti.

Di samping itu pola pikir ‘uang bisa dicari’ dapat merugikan keuangan bisnis maupun keuangan pribadi.

Oleh sebab itu, buang jauh-jauh pola pikir tersebut.

Baca juga: Hendri Saparini Ajak Milenial Bangun Wirausaha Sosial Berdayakan Petani