Kepala Dinas Perempuan DIY Sebut Internet Jadi Salah Satu Penyebab KDRT

20
Oetami beserta dinas yang ia pimpin kini mendorong perempuan untuk masuk dalam lembaga legislatif dan posisi pengambil keputusan.(Foto: Rosa)
Oetami beserta dinas yang ia pimpin kini mendorong perempuan untuk masuk dalam lembaga legislatif dan posisi pengambil keputusan.(Foto: Rosa)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Diskusi terkait permasalahan pembangunan berkelanjutan (SDG’s) tidak akan pernah lepas dari isu kesetaraan gender. Mengingat poin kelima dari SDG’s ini merupakan sebuah isu yang cukup memiliki dampak signifikan bagi pembangunan ke depan.

Signifikansi dampak dari isu kesetaraan gender tidak hanya dirasakan perempuan saja, seperti anggapan banyak orang. Mengingat isu kesetaraan gender juga menyasar target yang lebih luas.

“Sasaran aksi afirmatif dari isu kesetaraan gender itu tidak hanya perempuan saja, namun juga anak-anak, penyandang disabilitas, lansia dan kelompok tidak mampu atau kelompok marginal,” terang Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY. dr. R.A Arinda Oetami, M.Kes.

Pada acara seminar yang diselenggarakan oleh Departemen Geografi Pembangunan UGM, Selasa (30/04/2019) Oetami juga mengatakan isu ini penting dilakukan untuk mendorong kelompok rentang turut serta terlibat pembangunan ke depan. Sehingga pembangunan tidak lagi dirasakan oleh segelintir orang, melainkan lebih banyak.

Masalah perempuan dan anak sendiri setiap tahunnya terus mengalami fluktuasi, namun tidak ada tanda-tanda penurunan yang signifikan.

Permasalahan seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual dan kekerasan seksual, penikahan usia dini, kehamilan di luar nikah hingga kasus kematian ibu hamil terus terjadi. Jika melihat kondisi di Yogyakarta, Oetami menyebutkan jika laporan kasus KDRT di Yogyakarta pada tahun 2018 ada sebanyak 914 kasus.