Liputan Lapangan ke Lombok : Dari Potensi SDM Lokal sampai “Long of Stay” Wisatawan [3]

165
Berfoto bersama sembari rehat karena perjalanan masih jauh hingga dua kilometer (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Berfoto bersama sembari rehat karena perjalanan masih jauh hingga dua kilometer (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

REKTOR Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. beserta jajaran unsur pimpinan universitas mengunjungi mahasiswa UGM yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Kerujuk Desa Pemenang Kecamatan Pemenang Barat Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (29/8/2017). Kunjungan berlanjut dengan reuni bersama alumni UGM serta Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Pengda Kagama) NTB dengan tajuk “UGM Menyapa Alumni”. Berikut catatan perjalanan R Toto Sugiharto yang mendapat kesempatan turut dalam kegiatan liputan lapangan bersama wartawan yang tergabung di Fortakgama Yogyakarta. [REDAKSI]

TANTANGAN bagi pengelola Ekowisata Kerujuk dan juga destinasi wisata di Kabupaten Lombok Utara saat ini bukan lagi pada masalah mendatangkan wisatawan, melainkan pada upaya mereka membuat wisatawan menjadi lebih betah lagi tinggal di Kerujuk. Warga setempat kini menyadari, di Bali ada Karangasem, dengan potensi dan daya tariknya yang mampu mendatangkan wisatawan sedikitnya 1.600 wisatawan mancanegara per hari. Maka Lombok Utara berusaha meningkatkan kunjungan wisman dan wisnu dengan menambah long of stay (lama tinggal) dari yang semula 3,7 hari terhitung belakangan ini.

Selain itu, menurut Wayan Bratayasa selaku Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disparta Kabupaten Lombok Utara, untuk mengembangkan tidak bisa menghindari konektivitas dengan Bali dan Kupang, sementara itu, yang masih menjadi masalah besar buat pengembang destinasi baru adalah connecting flight. Upayanya mesti ada sinergi antarpengelola agen wisata agar jam kunjung atau lof of stay wisatawan – dengan rata-rata perbandingan 40 wisatawan mancanegara dan 60 wisatawan nusantara – di Lombok Utara menjadi bertambah. Lebih-lebih, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mematok target wisatawan sedikitnya dua juta per tahun.

Ketua Pokdarwis Lukmanul Hakim bersama pemuda setempat optimis pada prospek Kerujuk serta Desa Wisata lainnya di Lombok Utara (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Ketua Pokdarwis Lukmanul Hakim bersama pemuda setempat optimis pada prospek Kerujuk serta Desa Wisata lainnya di Lombok Utara (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Muhammad mengakui keunggulan daerah Lombok Utara terutama pada wisata alam. Sementara itu, untuk dapat memaksimalkan pengembangan sektor wisata tentu membutuhkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.  Dalam upaya terkait pengembangan sektor pariwista dengan demikian diperlukan sinergi dengan lembaga pendidikan tinggi, seperti Perguruan Tinggi Negeri dan welcome kepada siapa saja.

Upaya tengah dilakukan pengelola Ekowisata Kerujuk dan juga pengelola Desa Wisata di Kabupaten Lombok Utara, antara lain meningkatkan kreativitas, terutama dalam pembuatan produk kerajinan dari bahan alami seperti bambu dan kayu lokal.

Dari aspek infrastruktur pariwisata, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara melalui Dinas Pariwisata tengah mengembangkan sejumlah tiga desa wisata. Kelak, sistem pengelolaannya  dikembangkan melalui konektivitas travelling antardesa se-Kabupaten Lombok Utara maupun antarkabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di Kabupaten Lombok Utara saa ini juga tengah mengembangkan Desa Persiapan sebanyak 43 dengan Dusun Kerujuk termasuk dalam rintisan Desa Persiapan dari hasil pemerkaran Desa Menggala. Desa wisata lainnya, antara lain Desa Wisata Prawira berbasis IT. Ada pula desa wisata berbasis agrowisata di Desa Santong dan Desa Sukadana tang memiliki potensi membudidayakan buah di luar musim. Sementara itu, di Kerujuk juga memiliki hasil budi daya kopi dengan citarasa setara kopi arabika ala Negeri Paman Sam.

Kembali kepada potensi kualitas SDM, sebagai kabupaten yang pada 21 Juli 2017 baru berusia sembilan tahun, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara  telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 43,14% sekarang menjadi 33%. Penurunan angka kemiskinan tersebut tergolong tertinggi di Lombok Utara. Termasuk dengan upaya peningkatan kualitas SDM yang juga relatif tinggi. Muhammad mengilustrasikan salah satu contoh, di Pemenang baru dibangun SMP pada 2003 yang dibangun saat Muhammad  ditunjuk menjadi Kepala Sekolah.

“Kita ingin Pemenang bagian dari Lombok Utara menjadi pemenang sejati, khususnya melalui Desa Wisata Kerujuk. Tapi, juga akan tetap menjaga keaslian sesuai arahan para profesor. Tidak ada hotel, yang ada homestay. Kemudian, dari  bantuan yang turun akan memberdayakan masyarakat.  Apa pun bentuk bantuan akan melibatkan peran serta masyarakat Kerujuk agar aktif dan kreatif,”

Sambil rehat, rombongan Rektor UGM singgah di salah satu outlet yang menjajakan t'shirt, salah satu hasil kreativitas warga Kerujuk (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Sambil rehat, rombongan Rektor UGM singgah di salah satu outlet yang menjajakan t’shirt, salah satu hasil kreativitas warga Kerujuk (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Dilihat dari potensinya, Lukmanul Hakim optimis pada prospek Kerujuk serta Desa WIsata lainnya di Lombok Utara. Karenanay, dalam memersiapkan fasilitas sarana dan prasarana pihaknya juga akan menyesuaikan perkembangan. Diawali dari dibangunnya homestay sejumlah tiga kamar dari pengelola Ekowisata Kerujuk serta lima kamar dikelola warga pemilih hunian. Lebih-lebih, kelak akan mendapatkan bantuan Kementerian Desa.

“Kelak, akan dikembangkan lagi homestay serta fasilitas penunjang seiring berkembangnya Ekowisata Kerujuk. Kemendes siap mengucurkan bantun memadai hingga sarana dan prasarana sebagai destinasi wisata alam dan minat khusus itu semakin berkembang,” ucapnya.

Rektor UGM menyampaikan, UGM terbuka untuk putra-putri terbaik dari Lombok untuk menempuh studi hingga lulus dan kembali ke daerah untuk membangun bersama masyarakat setempat. Setiap potensi, baik seumber daya alam maupun manusianya difokuskan pada cita-cita bersama untuk memajukan Lombok melalui ekowisata.

“Tujuan KKN bagi UGM ingin menjangkau semua daerah di Indonesia untuk kita kunjungi, kirimkan mahasiswa KKN sebagai katalisator untuk kemajuan daerah. Kami dengansenang hati untuk menerima putra-putri terbaik dari desa dan kecamatan ini untuk menuntut ilmu di UGM mudah-mudahan bisa jadi pemicu kemajuan untuk Lombok Utara,” ucapnya.

Kormanit Muhammad Rifki Al Ghifari saat menyambut kunjungan rombongan pimpinan Kampus Biru menyampaikan mahasiswa KKN UGM yang ditempatkan di Desa Pemenang sejumlah 38 orang. Mereka dibagi menjadi empat kelompok yang ditempatkan di Telaga Wareng potensi peternakan – kebun ternak, Menggala Barat, Menggala Timur – pemberdayaan pemu dan budaya, obyek wisata, Kerujuk – pengembangan ekowisata menjadi unggulan dan pusat wisata di Lombok Utara.

Salah satu fasilitas outbond dibuat dari bahan baku bambu dan kayu hasil budi daya alami di Kerujuk (Foto R. Toto Sugiharto/KAGAMA)
Salah satu fasilitas outbond dibuat dari bahan baku bambu dan kayu hasil budi daya alami di Kerujuk (Foto R. Toto Sugiharto/KAGAMA)

“Ekowisata menjadi pusat pendidikan budaya dan lingkungan hidup, tempat belajar tentang pelestarian alam. Optimalisasi SDA melalui pariwisata, terutama perkebunan, pertanian, dan peternakan. Dalam prosesnya pengelola Ekowisata Kerujuk dan Desa Wisata lainnya di Lombok Utara membutuhkan bantuan pengawalan berkelanjutan untuk meningkatkan dan mengembangkan sektor wisata berkelanjutan.

Ditambahkannya, di kawasan ekowisata seluas sekitar empat hektar, mahasiswa KKN UGM membangun  wahana unik sebagai upaya menarik pengunjung, misalnya  membangun fasilitas outbond serta spot foto dengan bahan baku bambu dan kayu yang merupakan hasil utama perkebunan di Kerujuk, khususnya dan Lombok Utara umumnya.

Sebagaimana harapan Rifki dan kawan-kawan KKN, yakni mahasiswa sebagai agen perubahan maka peran dan keberadaan mereka selama 47 hari di empat dusun itu mengiringi proses perubahan terutama berkembangnya pariwisata. Juga, ditanda dengan penanaman bibit pohon bambu oleh Rektor UGM serta pemberian papan nama Ekowisata Kerujuk dari Prof Panut Mulyono kepada Kadisparta Muhammad sebagai simbol penguatan pembangunan desa wisata setempat.[rts]