Fauzi mengungkapkan Halo Banjir didesain agar bisa ditempatkan di segala tempat aliran sungai. Selain itu, pada daerah terpencil yang minim dengan listrik, Halo Banjir juga masih bisa beroperasi tanpa membutuhkan suplai daya dari PLN. Hal itu karena energi yang digunakan berasal dari cahaya matahari (Photovoltaic). Pada daerah perkotaan, Halo Banjir juga dilengkapi dengan aplikasi android sehingga semua orang yang memasang aplikasi ini pada telepon pintar mereka dapat memantau kondisi level air sungai secara terus-menerus.

Sistem penananggulangan banjir sejenis sebenarnya sudah banyak dibuat. Namun, Fauzi menuturkan, Halo Banjir memiliki beberapa keunggulan di beberapa aspek. Pada aspek fisik, kerangka dari Halo Banjir lebih kokoh, baik di stasiun pemantau ataupun peringatan. Selain itu, pada aspek keakuratan informasi, Halo Banjir akan mengabarkan ketinggian air, durasi waktu datang, dan jalur evakuasi kepada masyarakat melalui pengeras suara di stasiun peringatan tepat ketika air mulai naik.

“Hal itu penting ketika melihat selama ini kegagalan sistem deteksi banjir umumnya karena ketidakakuratan informasi kepada masyarakat,” tuturnya, Senin (09/07/2018).

Langkah selanjutnya yang akan dilaksanakan tim ini, menurut Fauzi, yaitu membuka kerja sama dengan berbagai pihak yang bergerak di bidang penanggulangan bencana. Hal itu bertujuan agar Halo Banjir bisa bermanfaat untuk menyelamatkan Indonesia dari bencana banjir yang terjadi tiap tahunnya. “Tentu kita tidak akan berhenti hanya di ajang PKM saja,” ujarnya. (Humas UGM/Hakam)