Hadapi Pandemi, Antropolog UGM Ajak Masyarakat Belajar Ketangguhan Sosial-Ekonomi Para Petani di Desa Petung

82
Dosen Antropologi Budaya UGM, Pujo Semedi mencontohkan sejarah sosial-ekonomi Desa Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah untuk menghadapi krisis. Foto: Ist
Dosen Antropologi Budaya UGM, Pujo Semedi mencontohkan sejarah sosial-ekonomi Desa Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah untuk menghadapi krisis. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ketangguhan sosial-ekonomi merupakan hasil sejarah panjang dari konstruksi sosial manusia dengan lingkungannya dan antarmanusia.

Dosen Antropologi Budaya UGM, Pujo Semedi mencontohkan sejarah sosial-ekonomi Desa Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah, yang membutuhkan waktu 20 tahun untuk bertransformasi.

“Tadinya sumber ekonomi warga Petung hanya ditopang oleh budidaya tanaman pangan dan sayur. Mulai tahun 2000-an warga bergantung pada ekonomi cagak telu (tiga tiang), yakni budidaya tanaman pangan, pemeliharaan sapi, serta pekerjaan di sektor industri dan jasa,” jelasnya.

Hal tersebut Pujo sampaikan dalam seminar daring Sinergi UGM dan KAGAMA, bertajuk Membangun Komunitas yang Tangguh Pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru, yang digelar pada Minggu (23/8/2020).

Selain sumber ekonomi, transfirmasi juga terjadi pada pola kerja rumah tangganya.

Baca juga: Masyarakat Butuh Uluran Tangan dari Komunitas Tangguh untuk Hadapi Pandemi

Pujo menjelaskan bahwa sekitar tahun 1980-an penduduk laki-laki tinggal di kampung sepanjang musim.

Sekarang, selesai musim tanam para suami dan pemuda langsung berangkat merantau dan kembali lagi saat musim panen.

Namun begitu, secara singkat ketahanan pangan masyarakat Desa Petung saat itu sulit diwujudkan. Seringkali terjadi pencurian padi yang mulai menua sebelum masa panen.

Masyarakat sulit memenuhi kebutuhan pangan, sehingga mereka kerap menyimpan sumber makanan lain seperti tales, gembili, ganyong sebagai makanan darurat. Situasi sulit ini lantas mempengaruhi ketahanan sosial rumah tangga.

Pujo menerangkan, keadaan masyarakat Petung meningkat seiring dengan adopsi pemeliharaan ternak sapi sebagai respon terhadap peningkatan daya beli dan konsumsi masyarakat.

Baca juga: Pesan Sri Sultan HB X dalam Peringatan UU Keistimewaan Yogyakarta