Dubes Wahid Temui Orang Banyumas di Rusia yang Belum Pernah Pulang ke Indonesia

303
Dubes alumnus UGM, M. Wahid Supriyadi, bertatap muka dengan warga Rusia asal Banyumas, Lubarto Sartoyo. Foto: KBRI Moskow
Dubes alumnus UGM, M. Wahid Supriyadi, bertatap muka dengan warga Rusia asal Banyumas, Lubarto Sartoyo. Foto: KBRI Moskow

KAGAMA.CO, MOSKOW – Perawakan Lubarto Sartoyo memang kecil untuk ukuran Rusia. Maklum, ayahnya memang asli orang Indonesia.

Ayahnya bernama Sartoyo, mahasiswa eks ikatan dinas atau disebut eks Mahid oleh Pemerintah Orde Baru.

Sartoyo, yang kelahiran Banyumas, datang ke Rusia pada 1961.

Dia belajar ilmu hukum di di Peoples’ Friendship University of Russia (RUDN University).

Dulu perguruan tinggi ini dikenal dengan Universitas Patrice Lumumba. Profesi terakhir Sartoyo adalah lawyer.

Baca juga: Menikmati Panorama Delapan Gunung di Kebun Teh Nglinggo

Demikian kisah yang diungkapkan Duta Besar Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi.

Cerita tentang Sartoyo dan eks Mahid jadi bahan pembicaraan Dubes Wahid saat bertemu Lubarto pada Kamis (16/7/2020) lalu.

Dubes alumnus Sastra Inggris UGM ini lantas melanjutkan ceritanya.

“Sampai sekarang tidak ada angka pasti, berapa jumlah mahasiwa Indonesia yang dikirim oleh Bung Karno ke Uni Soviet untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di negara itu,” kata Dubes Wahid kepada Kagama.

“Beberapa sumber eks Mahid menyebut jumlahnya sekitar 2 ribu orang. Itu termasuk anggota/kader Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi buruh yang berafiliasi ke PKI.”

Baca juga: Kisah Asisten Pelatih Sepak Bola PSS Sleman Alumnus UGM, Temukan Pentingnya Filsafat Dalam Sepak Bola