BULAKSUMUR, KAGAMA – Sejumlah lima dosen/guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) bernama Agus turut mendukung pergelaran Ketoprak Agus Agus berjudul Lintang Kemukus yang akan dipentaskan, Sabtu (12/8/2017) mulai pukul 19:00 WIB di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Pertunjukan seni tradisional yang juga untuk memperingati Hari Agus Nasional ini diselenggarakan oleh komunitas Agus Bumi Indonesia (ABI) Yogyakarta bekerjasama dengan Dewan Teater Yogyakarta.

Kelima dosen/guru besar UGM yang siap manggung adalah Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA (Dekan Fakultas Peternakan UGM), Prof. Dr. Cahyono Agus Dwi Koranto, M. Agr. Sc. (Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM), Prof. Dr. Ir. Agus Taufiq Mulyono, M.  T (Guru Besar Fakultas Teknik UGM), Dr. Ing. Ir. Agus Maryono (dosen Teknik Sipil  Sekolah Vokasi  dan Pascasarjana UGM), dan Dr. Agus Kuncaka, DEA (dosen Fakultas MIPA UGM).

Uniknya, menurut Wakil Ketua ABI Agus Raka, pergelaran seni tradisi itu bertekad memecahkan rekor atas rekor mereka sendiri yang mereka ciptakan tahun lalu saat menggelar event seni budaya di XT Square yang mencapai penonton sejumlah 377 orang bernama Agus. Untuk tahun ini ABI bertekad dapat melebihi jumlah 300-an seperti yang pernah dicapai di XT Square. Selain itu, juga akan mencanangkan Hari Agus Nasional dengan tumpengan.

Prof. Dr. Cahyono Agus DK, M. Agr. Sc. dalam pergelaran itu berperan sebagai sutradara lakon Lintang Kemukus yang ditulis Bondan Nusantara. Pada kesempatan konferensi pers, Kamis (10/8/2017) sore di pondok makan Pelem Golek, Sleman, Yogyakarta, Cahyono Agus mengungkapkan, proses dirinya sebagai sutradara dalam pergelaran Ketoprak Agus Agus baru kali pertama. Ia bersama komunitas ABI Yogyakarta sengaja memilih ketoprak karena dari berbagai keterlibatannya menyosialisasikan isu tertentu, seni pertunjukan tradisional dinilainya yang paling efektif dan mudah dicerna masyarakat.

“Pada babak kedua di lakon Lintang Kemukus nanti juga ditampilkan para bintang tamu dari tokoh masyarakat dan akademisi. Ada dosen dan guru besar UGM, politisi, bupati, seniman, dan lainnya. Dengan kebudayaan, penyampaian informasi lebih mudah. Sekat-sekat perbedaan jadi lebur. Nama Agus semula tidak saling kenal. Tapi, dengan kesamaan nama Agus, kita jadi bersinergi. Maknanya dari keadaan yang berbeda mencari kesamaan untuk mengisi keistimewaan Yogya dan pendidikan dengan cara yang mudah dipahami dan diikuti masyarakat lewat gerakan kebudayaan,” urainya.

(dari kiri ke kanan) Agus Raka (Wakil Ketua ABI Yogyakarta), Prof. Cahyono Agus (Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM), Agus Widya (Sekretaris ABI), dan Agus Darmawan (Ketua ABI) serta Udiek Supriyatna  (Dewan Teater Yogyakarta) di Pomdok Makan Pelem Golek dengan owner-nya juga bernama Agus (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
(dari kiri ke kanan) Agus Raka (Wakil Ketua ABI Yogyakarta), Prof. Cahyono Agus Dwi Koranto (Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM), Agus Widya (Sekretaris ABI), dan Agus Darmawan (Ketua ABI) serta Udiek Supriyatna (Dewan Teater Yogyakarta) menyapa dengan salam “Agus” di Pomdok Makan Pelem Golek dengan owner-nya juga bernama Agus (Foto R. Toto Sugiharto/KAGAMA)

Selain akademisi, sejumlah pemeran lakon yang bernama Agus, antara lain Agus Bastian kini menjabat Bupati Purworejo, Jawa Tengah dan Agus Sulistiyono sebagai anggota DPR RI. Turut memeriahkan lakon dengan setting masa Majapahit adalah tiga perempuan bernama Agus juga, yaitu Santa Maria Agustina Hapsari, Agustina Hesti, dan Sri Agustin.

Ketua ABI Yogyakarta Agus Darmawan menambahkan, pergelaran ketoprak merupakan bagian dari program Divisi Sosial Budaya ABI Yogyakarta yang lahir pada malam Nuzulul Quran, 17 Ramadhan. Setelah dideklarasikan, ABI membagi program kegiatan ke dalam empat pilar, yaitu pendidikan, sosial budaya, pariwisata, dan kesehatan. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain memberikan pelatihan hipnoterapi dengan instruktur dirinya serta memberikan bantuan kepada panti asuhan dan masyarakat miskin.

“Di pariwisata kita membantu Agus yang berwisata dari luar daerah yang berkunjung di Yogya. Sedangkan di Budaya,  untuk melestarikan budaya Jawa. ABI  jadi contoh, dari kesamaan nama namun dari latar belakang dan karakter yang berbeda. Kita ingin menyampaikan pesan meski kita berbeda-beda profesi, ada politsi sampai guru besar, ada TNI, pengusaha, mulai dari pejabat sampai ojek dan tukang becak.Semua ada di ABI,” ungkap anggota TNI ini.

Sementara itu, mewakili Dewan Teater Yogyakarta (DTY), Udiek Supriyatna menandaskan, hingga kini politik dan bahkan agama sudah tidak mampu memersatukan bangsa. Satu-satunya pilar yang mampu menyatukan bangsa adalah kebudayaan. Kebetulan, komunitas ABI memiliki Divisi Budaya. Bila kemudian mereka memilih ketoprak, karena seni tradisi itu yang paling ringan dikerjakan dan lebih bisa melibatkan banyak orang. Karena itu, DTY berperan untuk terlibat dalam mendampingi ABI.

“Dengan Lintang Kemukus saat ini mirip yang terjadi pada era Majapahit dulu. Setiap orang merasa dirinya Pandawa. Di Indonesia semua menaganggap dirinya Pandawa. Di situ kemudian saling fitnah untuk meraih kekuasaan. Target DTY tentu berusaha untuk membuat jaringan seluas mungkin dalam kerja budaya. Salah satunya lewat komunitas budaya ABI,” cetusnya. [rts]