Darah Wonosobo Mengalir dalam Diri Raja Pertama Kesultanan Mataram

271
Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum, bercerita tentang asal usul Danang Sutawijaya, raja pertama Kesultanan Mataram. Foto: @haryadienoe
Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum, bercerita tentang asal usul Danang Sutawijaya, raja pertama Kesultanan Mataram. Foto: @haryadienoe

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Desa Plobangan di Kademangan Selomerto menjadi saksi keberadaan suami-istri Syekh Ngabdullah Al Akbar dan Dyah Plobowangi.

Mereka berdua hidup pada zaman Kesultanan Demak (1475-1554).

Sehari-hari, Syekh Ngabdullah mengajar di padepokan yang dia dirikan.

Siswa dari seluruh penjuru nusantara belajar di sana dengan fasilitas memadai.

Kecintaan Syekh Ngabdullah pada dunia pendidikan didukung penuh oleh istrinya yang merupakan seorang pengusaha.

Baca juga: Solusi Gubernur Rohidin untuk Minimkan Kontak Fisik dalam Transaksi

Dyah Plobowangi punya beragam perusahaan warisan sang ayah, Ki Demang Selomerto.

Dia memiliki Perkebunan teh di sepanjang lereng Gunung Dieng, perkebunan tembakau di kaki Gunung Sundara Sumbing, dan peternakan sapi di sekitar aliran Kali Serayu.

Perusahaan yang dikelola Dyah Plobowangi juga turut memajukan daerah setempat karena menyerap banyak tenaga kerja.

Raja Demak, Raden Patah, senang melihat kemajuan dan kemakmuran tersebut.

Maka pada 25 Mei 1489 menaikkan status daerah pimpinan Ki Demang Selomerto menjadi Kabupaten Wonosobo.

Baca juga: Amerika Latin, Catatan Perjalanan II