Salah satu warga Kampung I Lewara, Naji (53) menuturkan warga Lewara sudah lama mengharapkan kehadiran listrik di desanya. Namun hingga saat ini mereka belum dapat menikmati listrik secara langsung.

“Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tetapi Lewara belum Merdeka. Setiap malam kami hidup dalam gelap, hanya bisa memandang dari kejauhan kelap-kelip lampu di Kota Palu,” ujarnya.

Untuk penerangan di malam hari, selama ini warga Lewara masih menggunakan alat penerangan tradisional yaitu lampu dari minyak tanah. Dalam beberapa tahun terakhir sebagian kecil ada yang menggunakan genset dan panel surya. Dengan genset untuk menyalakan lampu dari pukul 18.00-23.00 WITA membutuhkan 2 liter bensin. Sementara harga bensin di wilayah ini Rp.10.000,- per liter. Dengan demikian pemilik genset harus mengeluarkan Rp. 600.000,- setiap bulannya untuk penerangan.

“Kami senang dan bersyukur dengan pembangunan PLTMH ini, semoga bisa segera menikmati listrik ,” kata Naji.