Anak Cacat Lahir Bukan Hukuman dari Tuhan

25
Keadaan cacat lahir yang terjadi pada seorang anak bukanlah takdir atau hukuman dari Tuhan. Foto: iyakan.com
Keadaan cacat lahir yang terjadi pada seorang anak bukanlah takdir atau hukuman dari Tuhan. Foto: iyakan.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Cacat lahir pada anak merupakan salah satu yang menjadi perhatian bagi orang tua.

Guna menghindari  kelahiran anak yang kurang sempurna, beberapa  calon orang tua terkadang sampai memperhatikan gizi anak dan sangat berhati-hati ketika hamil.

Namun, menilik anggapan soal cacat lahir sebelum milenium baru, atau pada tahun 2000-an, banyak yang menganggap bahwa cacat lahir anak merupakan takdir.

Selain itu, banyak pula masyarakat yang menganggap bahwa cacat lahir anak merupakan hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa.

Namun demikian, pandangan negatif tersebut kemudian coba dihapus oleh guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Purnomo Suryantoro, DTM&H, D.Sc(hon), Ph.D, Sp.A(K).

Prof. dr. Purnomo Suryantoro. Foto: istimewa
Prof. dr. Purnomo Suryantoro. Foto: istimewa

Baca juga: Kisah Kerbau Vaksin Dokter Sardjito Menembus Perang Revolusi Kemerdekaan

Dikutip dari Berita KAGAMA edisi Mei 2001, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, Purnomo mengungkapkan bahwa dokter anak perlu mempersiapkan diri untuk memperdalam ilmu penyakit anak.

Dalam petikan pidato berjudul Dari Penapisan Klinis Menuju ke Tingkat Molekuler, Nanoteknologi dan Xenotransplantasi pada 2001, Purnomo mengungkapkan pendalaman ilmu penyakit anak untuk seorang dokter anak tak hanya secara klinik, tetapi sampai tingkat molekuler.

Selain itu, pria kelahiran Pati, 18 April 1942 itu mengungkapkan bahwa keadaan cacat lahir yang terjadi pada seorang anak bukanlah takdir atau hukuman dari Allah SWT, melainkan suatu ujian baik mental, fisik, maupun pengetahuan dan merupakan perintah bagi manusia untuk meningkatkan ilmu.

Purnomo merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran UGM pada tahun 1969.

Dia sempat melanjutkan pendidikan spesialis anak di UGM dan lulus pada 1975.

Baca juga: Wayang Melakonkan Identitas Diri Penggemarnya