Alumnus Teknik Nuklir UGM Ini Ungkap Kunci Penting Keberhasilan Proyek Penanggulangan Perubahan Iklim

97
Coordinator Indonesia Private Financing Advisory Network (PFAN) Country, Hari Yuwono, mengungkapkan pandangannya tentang proyek penyelesaian masalah perubahan iklim. Foto: Ist
Coordinator Indonesia Private Financing Advisory Network (PFAN) Country, Hari Yuwono, mengungkapkan pandangannya tentang proyek penyelesaian masalah perubahan iklim. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kontribusi Indonesia melalui pemanfaatan energi terbarukan dinilai masih minim.

Sehingga perlu ada dorongan lebih besar agar energi terbarukan bisa dikembangkan, sampai akhirnya bisa berdampak positif bagi perubahan iklim.

“Upaya menghadapi perubahan iklim akan berdampak pada pengurangan emisi gas rumah kaca.”

“Banyak aksi yang harus dilakukan untuk memenuhi komitmen di tahun 2030, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca 29 persen,” ungkap Coordinator Indonesia Private Financing Advisory Network (PFAN) Country, Hari Yuwono.

Hal tersebut dia sampaikan dalam acara diskusi Tantangan Penerapan Clean Energy di Indonesia, yang digelar oleh Keluarga Alumni Teknik Fisika dan Teknik Nuklir UGM beberapa waktu lalu secara daring.

Baca juga: Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia Masih Stagnan, Begini Kendala dan Solusinya

PFAN merupakan lembaga jaringan global para ahli iklim dan energi bersih, yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara pengusaha dan investor sektor swasta dalam pengembangan proyek-proyek iklim dan energi bersih.

Bagi Hari, Energi, forestry, dan agriculture, menjadi tiga sektor yang harus dijaga dan dipertahankan fungsinya.

Sebab tiga sektor ini punya peran penting bagi penyelamatan bumi dari emisi gas rumah kaca.

Seperti dalam bidang energi, clean energy menjadi salah satu energi terbarukan yang layak untuk dikembangkan.

Menurut Hari, clean energy merupakan energi yang pemanfaatannya tidak merusak lingkungan.

Baca juga: Kiat Mendampingi Anak Main Medsos Agar Tak Kebablasan