Upaya Kemenristek/BRIN Dorong Kemandirian Sektor Kesehatan

172
Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristek/BRIN ini, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D, menyampaikan, di usia emasnya pada 2045 mendatang, Indonesia diperkirakan akan menjadi negara yang hebat secara ekonomi pada peringkat ke-4 di dunia. Foto: Ist
Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristek/BRIN ini, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D, menyampaikan, di usia emasnya pada 2045 mendatang, Indonesia diperkirakan akan menjadi negara yang hebat secara ekonomi pada peringkat ke-4 di dunia. Foto: Ist

KAGAMA.CO, JAKARTA – Segala cita-cita yang tertuang dalam visi Indonesia emas, akan terwujud jika Indonesia mampu mengembangkan kualitas SDM-nya.

Mengutip sebuah studi, Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristek/BRIN ini, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D, menyampaikan, di usia emasnya pada 2045 mendatang, Indonesia diperkirakan akan menjadi negara yang hebat secara ekonomi pada peringkat ke-4 di dunia.

“Namun, sayangnya dalam proses menyongsong visi tersebut kita diserang badai Covid-19. Jumlah kasus positif semakin meningkat dan melebihi jumlah kasus positif di Wuhan,” tuturnya.

Hal itu Ghufron sampaikan dalam Seminar PPRA LX LEMHANAS RI, bertajuk Nasionalisme di Tengah Pandemi Covid-19 dalam Menyongsong Indonesia Emas, yang digelar pada Selasa (21/7/2020), secara langsung dan daring.

Baca juga: Awal Tahun Depan Indonesia Siap Produksi Vaksin Covid-19 dalam Skala Besar

Menurut Ghufron, nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia kini sedang diuji. Pihaknya mendorong masyarakat dan pemerintah untuk mempertahankan nasionalisme tersebut, baik dalam bentuk ekspresi dan identitas yang disesuaikan dengan perubahan.

“Kalau kita ingat pesan Bung Karno, bangsa Indonesia harus berdaulat secara ideologi dan mandiri secara ekonomi. Seperti yang kita lihat sekarang global supply chain terganggu akibat Covid-19,” jelas Guru Besar FK-KMK UGM ini.

Kemandirian ekonomi tersebut termasuk juga mandiri dalam memproduksi dan meningkatkan fasilitas serta layanan kesehatan. Hal ini sudah diperkuat dengan INPRES No.6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Namun, kenyataannya alat-alat kesehatan, bahan baku obat, dan vaksin, 90 persen diantaranya masih impor.

Baca juga: Resmi Dilantik Jadi Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Prof. Nizam Ingin Wujudkan 3 Kunci