Hal-hal yang Harus Dilakukan Agar Bisa Mendongkrak Komoditas Teh Indonesia

107
Menurut Rachmad Gunadi, dibandingkan dengan saat ini, komoditas teh lebih berkembang pesat di masa penjajahan. Foto: Primordia Faperta
Menurut Rachmad Gunadi, dibandingkan dengan saat ini, komoditas teh lebih berkembang pesat di masa penjajahan. Foto: Primordia Faperta

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dibandingkan dengan saat ini, komoditas teh lebih berkembang pesat di masa penjajahan.

Industri perkebunan dipandang menarik oleh negera-negara penjajah kala itu.

Penasihat Asosiasi Teh Indonesia, Dr. Ir. Rachmad Gunadi mengatakan, perkebunan menjadi potensi luar biasa, sehingga tidak heran Indonesia dijajah sangat lama.

“Infrastruktur jalan yang dibangun pada zaman penjajahan, tidak lain berfungsi sebagai jalur transportasi untuk distribusi hasil perkebunan, yang salah satunya adalah teh,” tuturnya.

Hal tersebut dia sampaikan dalam dalam webinar KAGAMA Ngeteh Merdeka: Memerdekakan Teh Indonesia, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Public Speaking Nggak Cuma Perkara Orang Bisa Ngomong Panjang Lebar

Merunut dari sejarahya, Rachmad mengungkapkan, keberadaan teh di Indonesia tidak terlepas dari adanya koloni Belanda, yang saat itu datang bersama bangsa-bangsa kolonial menyusul dibukanya Terusan Suez.

“Dengan ini perjalanan mereka menjadi lebih pendek karena tak perlu mengelilingi Benua Afrika. Bisa dilihat, upaya mereka menanam teh tidak mudah. Sebagian perkebunan teh yang ada di Indonesia merupakan sisa-sisa warisan Belanda.”

“Tahun 1970-an teh Indonesia sempat berjaya, harga jualnya sempat berada di atas Sri Lanka. Kalau melihat perbandingannya sekarang, mungkin orang-orang akan terkejut. Teh Sri Lanka berkembang pesat, padahal mereka dulu belajar dari Indonesia,” jelasnya.

Berdasarkan penelusurannya, Rachmad mengatakan, Indonesia pernah menjadi negara eksportir teh.

Dari Indonesia, teh menjadi salah satu komoditas ekspor terbesar setelah karet.

Baca juga: Kagama Pemalang Salurkan Bantuan 1.000 Bibit Kelapa kepada Kelompok Tani Desa Purana