Ade Siti Barokah Bercerita soal Problem yang Dihadapinya saat Dampingi Kelompok Marjinal

981

Baca juga: Program Desa Inklusif KAGAMA Kaltim Ingin Atasi Kemiskinan di Desa Karya Jaya, Samboja

Ade lantas menerangkan berbagai problem yang langsung dirasakan oleh masyarakat dampingannya.

Hal itu seperti kehilangan mata pencaharian yang dialami oleh kelompok difabel.

Menurutnya, Indonesia saat ini belum memberi keistimewaan buat kelompok difabel untuk mendapat kesempatan kerja yang kompetitif.

Bisa jadi karena faktor pendidikan dan keterampilan yang berbeda dengan orang difabel. Di samping itu, masih banyak ruang-ruang kerja yang belum membuka akses untuk difabel.

“Ada banyak persyaratan yang menghambat kelompok difabel untuk bisa berkompetisi di dunia kerja,” ujar Ade.

Baca juga: Melihat Canthelan di Bekasi yang Disulap Teguh WS Jadi Pasar Noceng

“Akibatnya, kelompok difabel memiliki kesempatan yang terbatas. Mereka umumnya bekerja di sektor-sektor informal.”

“Seperti menjadi pedagang kecil, loper koran, tukang pijat, dan penjahit. Mereka mengalami penurunan pendapatan secara signifikan,” jelasnya.

Data yang didapat dari mitra tempat Ade bekerja menyebut ada 80 persen kelompok difabel yang terdampak langsung secara ekonomi.

Belum lagi kelompok difabel dengan psikososial alias orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Kata Ade, kelompok ODGJ harus meminum obat khusus setiap hari dan terapi secara rutin untuk bisa hidup secara normal.

Baca juga: Beragam Inovasi Ganjar Pranowo yang Membuat Jateng Diganjar Juara 1 Provinsi Terinovatif 2020