KAFEGAMA NTB Latih Pemuda Mataram Jadi Petani Kota

361
Permintaan harian sayur hidroponik melewati KAFEGAMA NTB saat ini 20 kg/hari, dengan harga rata-rata 20 ribu rupiah/kg. Foto: Istimewa
Permintaan harian sayur hidroponik melewati KAFEGAMA NTB saat ini 20 kg/hari, dengan harga rata-rata 20 ribu rupiah/kg. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, MATARAM – KAFEGAMA NTB meluncurkan hidroponik percontohan di Lingkungan Dasan Cermen Barat, kelurahan Dasan Cermen, Mataram pada Sabtu (15/02/2020).

Ketua Harian KAFEGAMA NTB, Supiandi, SE., M.Ec, mengungkapkan, pemilihan lokasi ini sebab Dasan Cermen adalah binaan KAFEGAMA NTB.

Saat pelatihan ada 5 generasi milenial Dasan Cermen yang ikut, mereka tergabung dalam pokdarwis Dasan Cermen.

Supiandi berharap, percontohan tersebut bisa ditiru langsung oleh masyarakat.

Selain menjadikan lingkungan asri, budidaya hidroponik juga sangat menguntungkan secara ekonomi.

Permintaan harian sayur hidroponik melewati KAFEGAMA NTB saat ini 20 kg/hari, dengan harga rata-rata 20 ribu rupiah/kg. Foto: Istimewa
Permintaan harian sayur hidroponik melewati KAFEGAMA NTB saat ini 20 kg/hari, dengan harga rata-rata 20 ribu rupiah/kg. Foto: Istimewa

Baca juga: Ingin Bangun Rumah Alumni, Dekan FKG UGM Harapkan Kontribusi Alumni

Sebelumnya, sudah ada pelatihan yang dilaksanakan pada bulan November dan Desember tahun 2019 di Pondok Pesantren Darul Qur’an, Bengkel, Lombok Barat.

Selama tiga hari, peserta diberikan pelatihan tentang budidaya hidroponik, diberikan pemahaman teori dan langsung praktik budidaya hidroponik.

Supiandi menyebut, KAFEGAMA NTB berusaha hadir memberikan solusi kepada masyarakat perkotaan dengan cara melatih generasi milenial perkotaan untuk menjadi petani kota.

Sebab, alih fungsi lahan dan peningkatan jumlah penduduk saat ini, dapat menurunkan ketahanan pangan dan meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia.

Untuk mengantisipasinya perlu ada terobosan kebijakan dari pemangku kepentingan, salah satunya penerapan pertanian perkotaan (urban farming).

“Sebuah penelitian yang dilakukan Alice dan Foeken pada tahun 1996 di kota Nairobi, Kenya menunjukkan bahwa pertanian kota yang diimplementasikan di kota Nairobi mampu meningkatkan asupan energi petani kota (5,5%) dan petani kota binaan (19,23%) dibandingkan anggota masyarakat yang bukan pelaku pertanian kota,” contohnya.

Demikian pula dengan asupan protein, kata Supiandi, petani kota dan petani kota binaan mengalami peningkatan asupan protein sebesar 1,64% dan 8,2% (secara berurutan).

Baca juga: Sebanyak 25 Angkatan Pulang Kampung Peringati Dies Natalis ke-72 FKG UGM