Kamis, 18 Juli 2024 | 05:09 WIB

Penyakit Antraks Menjalar di Gunungkidul, Begini Gejala dan Penanganannya

Baca juga: Frankie Handoyo Butuh Waktu 9 Tahun Buru 410 Spesies Anggrek Indonesia

Apabila seekor ternak telah menunjukkan gejala antraks seperti demam tinggi, gelisah, tidak mau makan, mati dengan keluarnya darah hitam dari lubang tubuh atau mati secara mendadak, pemilik ternak perlu menghubungi puskeswan atau petugas kesehatan hewan terdekat.

Bukan menyembelih hewan tersebut untuk dijual atau dikonsumsi.

“Di DIY sebagian besar kasus terjadi karena ketika seekor ternak sakit atau mati masyarakat merasa ‘sayang’ jika dibuang dan mencoba, dari pada mati sia-sia maka disembelih untuk dijual dengan harga murah atau diberikan kepada masyarakat sekitar,” jelas Riris.

Tindakan ini kata Riris, justru akan meningkatkan risiko penyakit.

Sebab, dengan menyembelih hewan, maka sporanya akan menyebar ke lingkungan.

Dia pun mengimbau tenaga kesehatan terutama yang berada di layanan primer untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala penyakit Antraks.

Kemudian segera berkoordinasi dengan dinas kesehatan atau puskesmas terkait apabila menemukan kecurigaan suspek kasus antraks.

Baca juga: Almarhum Prof. Ginus Partadiredja Dikenal Tegar dan Dekat dengan Mahasiswa

Sementara pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. AETH. Wahyuni, M.Si., mengungkapkan bahwa penyakit antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis.

Spora dari bakteri ini bisa bertahan di tanah hingga puluhan tahun, sehingga dia menegaskan agar hewan yang diduga terjangkit penyakit ini tidak boleh disembelih atau dibuka.

“Kalau hewan disembelih darahnya akan keluar, dan di situ bakterinya juga akan keluar. Begitu berhubungan dengan udara, dia akan membentuk spora yang bisa bertahan di tanah hingga puluhan tahun,” terangnya.

Karakter bakteri tersebut, membuat pengendalian penyakit antraks tidak mudah.

Cukup sulit untuk mengetahui letak spora bakteri yang keluar dari hewan.

Untuk itu, peternak perlu melakukan penanganan bangkai hewan secara tepat.

Dia menyampaikan bahwa di beberapa negara, penanganan bangkai hewan yang terjangkit penyakit dilakukan dengan insenerator untuk menghancurkan bangkai secara menyeluruh.

Baca juga: Apa Peran Indonesia dalam Konflik AS-Iran?

“Namun, alat tersebut belum bisa diterapkan untuk kasus penyakit ternak di Indonesia,” jelas Wahyuni.

Alternatif yang dapat dilakukan yaitu, mengubur bangkai pada lubang dengan kedalaman minimal 2 meter, yang ditutup dengan tanah dan diberi disinfektan.

Area tersebut juga sebaiknya diplester atau dilapisi dengan semen sebagai penanda bahwa di tempat tersebut pernah terjadi kasus antraks.

Lalu tempat itu tidak boleh dibangun ataupun digali.

Langkah berikutnya, melakukan vaksinasi ternak, serta pengawasan secara berkala terhadap hasil dari vaksinasi tersebut.

Sebagai pencegahan, khususnya di daerah endemik penyakit antraks, Wahyuni menyarankan agar vaksinasi dilakukan dua kali dalam setahun.

“Sebab, antibodi mulai menurun setelah 6 bulan,” jelasnya. (Kinanthi)

Baca juga: Saptuari Cari Rezeki di Jalan Allah dan Siarkan Kebaikan dalam Bisnisnya 


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA