BPJS Ketenagakerjaan Kembali Raih WTM untuk Laporan Keuangan Tahun 2017

70
BPJS Ketenagakerjaan dinilai punya kinerja keuangan yang baik untuk tahun 2017.
BPJS Ketenagakerjaan dinilai punya kinerja keuangan yang baik untuk tahun 2017.

KAGAMA.CO, JAKARTA – BPJS Ketenagakerjaan kembali mencatatkan kinerja keuangan yang baik untuk tahun 2017, berdasarkan hasil audit yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Kanaka Puradiredja, Suhartono (Anggota dari Nexia International) dengan predikat WTM (Wajar Tanpa Modifikasian).

Selain predikat WTM untuk kinerja keuangan, Laporan Pengelolaan Program juga telah melalui proses audit oleh KAP Razikun Tarkosunaryo dan laporan telah disusun berdasarkan dengan kriteria yang berlaku sesuai Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2013 tentang bentuk dan isi laporan pengelolaan program jaminan sosial ketenagakerjaan.

Hasil yang didapatkan BPJS Ketenagakerjaan ini merupakan buah kerja keras tahun 2017 yang didukung oleh semua pihak terkait. Tercatat, sebanyak 488.188 Pemberi Kerja aktif dengan 26,2 juta tenaga kerja terdaftar menjadi peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan hingga 31 Desember 2017.

Sementara untuk total keseluruhan pekerja yang telah terdaftar mencapai angka 44,99 juta pekerja dari seluruh penjuru nusantara.

Kontribusi iuran yang diterima BPJS Ketenagakerjaan sepanjang tahun 2017 mencapai Rp56,4 triliun dengan total nilai pembayaran jaminan tercatat sebesar Rp25,2 triliun.

Secara keseluruhan pelayanan pembayaran jaminan yang dilakukan juga mendapat respon positif, sebesar 90,71% berdasarkan hasil survey kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction Index) tahun 2017, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 88%.

Dari sisi asset kelolaan juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sampai dengan penghujung tahun 2017, BPJS Ketenagakerjaan mengelola aset sebesar Rp326,77 triliun yang terdiri dari aset BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp14,46 triliun dan aset Dana Jaminan Sosial (DJS) ketenagakerjaan sebesar Rp312,31 triliun.

Selain itu, pengelolaan dana investasi BPJS Ketenagakerjaan dan DJS ketenagakerjaan yang dikelola sampai dengan akhir tahun 2017 mencapai sebesar Rp317,12 triliun, dengan pendapatan investasi yang dihasilkan dari dana kelolaan tersebut sebesar Rp26,72 triliun.

Tren ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dimana dana investasi sebesar Rp261,22 triliun dengan hasil pendapatan investasi Rp21,75 triliun.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto menilai pencapaian kinerja yang sangat baik ini harus dipertahankan dan ditingkatkan.

“Semua pihak terkait memiliki peran penting dalam pencapaian kinerja yang baik ini,” ujar alumnus FISIPOL UGM itu.

Agus menambahkan, salah satu fokus pihaknya selama tahun 2017 adalah meningkatkan cakupan kepesertaan pekerja Bukan Penerima Upah (BPU).

Lewat program inisiatif seperti Perisai (Penggerak Jaminan Sosial), yang telah berhasil mengakuisisi 18.303 pekerja dengan 595 Perisai. Selain itu, program GN Lingkaran (Gerakan Nasional Peduli Perlindungan Pekerja Rentan), telah berhasil melindungi 599.476 pekerja BPU rentan. Untuk perlindungan pekerja migran, BPJS Ketenagakerjaan telah mengakuisisi 99.800 Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui program perlindungan PMI.

Desa Sadar Jaminan Sosial juga menjadi salah satu strategi inisiatif tahun 2017 ini dengan mencanangkan 276 desa yang memiliki komitmen untuk mengedukasi masyarakat dan memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada para perangkat desa dan potensi pekerja lainnya di desa masing-masing.

Pembiayaan perumahan pekerja juga dipersembahkan bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui Manfaat Layanan Tambahan (MLT).

“Kami merupakan badan hukum publik yang mengutamakan pengelolaan dana yang bersih dan akuntabel. Paparan publik yang kami lakukan saat ini merupakan salah satu komitmen kami dalam memberikan transparansi pengelolaan dana jaminan sosial ketenagakerjaan kepada masyarakat”, jelas Agus.

Di tahun 2017, BPJS Ketenagakerjaan juga memberikan hasil pengembangan Jaminan Hari Tua (JHT) yang cukup tinggi yaitu mencapai 7,83% atau meningkat 0,66% dibanding tahun sebelumnya dan lebih tinggi dari rata-rata tingkat suku bunga deposito bank pemerintah tahun 2017 sebesar 5,00%.

“Kami berterimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kami, sehingga kami dapat meraih pencapaian ini. Juga terimakasih atas kepercayaan seluruh pekerja dan pemberi kerja kepada perlindungan yang kami selenggarakan. Kami akan selalu memberikan yang terbaik agar perlindungan jaminan sosial benar-benar optimal bagi seluruh pekerja,” pungkasnya. (*)

 

Sumber : Deputi Direktur Bidang Humas dan Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan