Upaya yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Membasmi Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan

255
Dua alumnus Fakultas Filsafat UGM, Silvy Wantania dan Khoirul Rosyadi, berbagi pandangan mengenai solusi pelecehan seksual di dunia pendidikan Indonesia. Foto: Ist
Dua alumnus Fakultas Filsafat UGM, Silvy Wantania dan Khoirul Rosyadi, berbagi pandangan mengenai solusi pelecehan seksual di dunia pendidikan Indonesia. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Silvy Wantania tak bisa melupakan fenomena yang terjadi di suatu hari pada 1988.

Kala itu, dia dan teman-temannya sesama mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, tengah mengikuti perkuliahan.

Hanya, mata kuliah itu membuat risih Silvy lantaran sikap yang ditunjukkan oleh oknum dosen.

Silvy membagikan kisahnya dalam webinar Seksualitas dan Institusi Pendidikan yang diadakan KAGAMA Filsafat dan Fakultas Filsafat UGM, belum lama ini.

“Beliau menginginkan mahasiswi duduk paling depan. Padahal, jumlah mahasiswi lebih sedikit,” kata Silvy.

Baca juga: Bisnis Digital Butuh Personal Branding, 3 Hal Ini Harus Dikembangkan Para Pelaku Usaha

“Kakak angkatan telah mengingatkan, ‘Lebih baik duduk di tengah bersama kita-kita’. Dosen itu kadang-kadang memberikan pertanyaan yang menyakitkan, dengan jokes-jokes yang kurang pantas untuk wanita,” kenangnya.

Hingga suatu ketika, di mata kuliah tersebut, Silvy dan sang dosen terlibat adu mulut.

Alumnus Filsafat UGM angkatan 1987 tersebut dibuat kesal. Pasalnya, setiap kuliah dia selalu dijadikan bahan lelucon dengan alasan tak berdasar.

Kegaduhan pun terjadi. Masalah ini lalu diangkat oleh lembaga pers mahasiswa, Balairung, dan terdengar sampai Bandung.

Ketua jurusan S1 kala itu, Achmad Charris Zubair, juga ikut membela Silvy dengan melaporkan kasus ini ke pihak dekanat.

Baca juga: Direktur BukaPengadaan Alumnus UGM Ungkap Peluang Bisnis Ritel Indonesia di Masa Pandemi